Skip to content
Yellow Desk
September 17, 2026
Hiburan

Media AS sertakan Empat Musim Pertiwi dalam 20 judul pilihan TIFF 2026

Emily Jackson - kabarsatunusa.com 5 mins read

Film Indonesia kembali memperoleh perhatian di panggung perfilman internasional melalui “Empat Musim Pertiwi” atau “Four Seasons in Java”. Karya terbaru

Media AS sertakan Empat Musim Pertiwi dalam 20 judul pilihan TIFF 2026

“Empat Musim Pertiwi” Masuk Sorotan TIFF 2026

Kabarsatunusa.com – Film Indonesia kembali memperoleh perhatian di panggung perfilman internasional melalui “Empat Musim Pertiwi” atau “Four Seasons in Java”. Karya terbaru Kamila Andini tersebut masuk dalam daftar 20 film internasional pilihan yang dinilai patut diikuti sepanjang Toronto International Film Festival 2026.

Film ini menjalani pemutaran perdana dalam program Centrepiece TIFF 2026. Putri Marino, pemeran utama film tersebut, berada dalam daftar pilihan yang juga mencakup sejumlah produksi internasional dengan deretan pemain terkenal, antara lain Helen Mirren, Jodie Comer, Laura Linney, Rhys Ifans, Erin Doherty, dan James McAvoy.

Masuknya “Empat Musim Pertiwi” dalam perhatian festival Toronto menjadi penanda penting bagi perjalanan film tersebut. Selain membawa cerita yang berakar pada pengalaman sosial di Indonesia, film ini hadir dengan kolaborasi produksi lintas negara. Forka Films memproduksinya bersama mitra dari Indonesia, Prancis, Belanda, Norwegia, Polandia, Arab Saudi, dan Singapura.

Kepulangan Pertiwi dan Luka yang Tertinggal

Putri Marino memerankan Pertiwi, seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah dua dekade berada di penjara. Ia dipenjara karena membela diri saat menghadapi percobaan pemerkosaan. Kepulangannya terjadi ketika desa tersebut mulai memasuki perubahan baru dengan hadirnya aliran listrik.

Namun, perjalanan pulang itu tidak menawarkan ketenangan. Di tengah lanskap berkabut kawasan Bromo, Pertiwi harus berhadapan dengan luka keluarga, ingatan yang tidak selesai, serta sikap komunitas lama yang masih diliputi rasa curiga. Perubahan fisik pada desa berjalan beriringan dengan ketegangan batin tokoh-tokohnya.

Kisah ini tidak diposisikan hanya sebagai drama kepulangan. Kamila Andini membawa penonton ke wilayah penceritaan yang bergerak antara kenyataan sehari-hari dan suasana yang mendekati mitos maupun fiksi spekulatif. Pergeseran itu memberi ruang bagi film untuk membicarakan trauma, komunitas, dan ingatan kolektif dengan pendekatan yang lebih luas.

Selain Putri Marino, film ini diperkuat oleh Arya Saloka dan Christine Hakim. Kehadiran keduanya menambah bobot pada jajaran pemain, terutama dalam cerita yang menempatkan relasi antargenerasi dan kehidupan komunal sebagai bagian penting dari konfliknya.

Bromo yang Lama Dibayangkan sebagai Latar Cerita

Lanskap Bromo menjadi salah satu elemen yang melekat pada identitas visual “Empat Musim Pertiwi”. Produser Ifa Isfansyah telah lama memandang kawasan tersebut sebagai kemungkinan ruang bagi sebuah film, bahkan hampir sepuluh tahun sebelum produksi akhirnya memasuki tahap pengambilan gambar.

Pilihan latar itu lebih dari sekadar penanda tempat. Kabut, bentang alam, serta suasana desa dalam film berperan membangun atmosfer yang menyelimuti perjalanan Pertiwi. Lingkungan tersebut menjadi ruang tempat masa lalu muncul kembali dan hubungan sosial diuji setelah tokoh utama kembali hadir di tengah masyarakatnya.

Bagi penonton Indonesia, latar Bromo juga memberi kedekatan tersendiri tanpa mengurangi karakter universal dari konflik yang diangkat. Cerita tentang seseorang yang pulang setelah kehilangan waktu panjang, lalu harus menghadapi penilaian masyarakat serta sisa trauma, dapat dibaca melampaui batas wilayah dan budaya.

Kamila Andini dan Pilihan untuk Tidak Menyesuaikan Diri

TIFF 2026 menjadi panggung Toronto berikutnya bagi Kamila Andini setelah “Yuni” meraih Platform Prize pada 2021. Perjalanan itu memperlihatkan kesinambungan karya sang sutradara dalam menghadirkan film Indonesia ke forum internasional, sambil tetap mempertahankan perhatian pada pengalaman perempuan dan lingkungan sosial di sekitarnya.

Dalam pembicaraan mengenai posisi sinema Indonesia di pasar global, Andini menyampaikan pandangannya mengenai tantangan yang masih dihadapi para pembuat film dari Tanah Air.

“Indonesia bukanlah pilihan utama siapa pun dalam industri sinema Asia,” ujar Kamila Andini.

“Kami bahkan bukan yang utama di Asia Tenggara, karena Thailand dan Filipina jauh lebih diakui,” tambahnya.

Pernyataan tersebut menggambarkan alasan di balik langkah aktifnya berada di pasar proyek internasional. Bagi Andini, keterbatasan pengakuan itu tidak mendorongnya untuk membuat karya yang sekadar mengikuti selera pasar. Ia justru memilih menegaskan karakter cerita yang ingin dibawanya.

Pengalaman ketika mengembangkan “Yuni” menjadi salah satu latar bagi keputusan tersebut. Saat itu, jumlah karakter sempat dikurangi setelah adanya masukan internasional. Untuk “Four Seasons in Java”, ia mengambil arah berbeda dengan tidak menyiapkan “festival cut” yang dirancang khusus agar lebih mudah diterima pihak tertentu.

“Di ‘Four Seasons In Java’, saya tidak menahan diri,” tegas Andini.

Keputusan itu tercermin dalam kehadiran banyak karakter di dalam film. Andini memanfaatkan susunan tokoh yang besar untuk menampilkan semangat komunal masyarakat Indonesia secara lebih utuh. Dengan demikian, Pertiwi tidak berdiri sendiri sebagai pusat cerita; ia juga bergerak di antara jaringan keluarga, warga desa, dan sejarah bersama yang memengaruhi hidupnya.

Ruang bagi Film Asia Tenggara di Toronto

Terpilihnya “Empat Musim Pertiwi” sebagai salah satu judul internasional yang disorot memberi visibilitas tambahan bagi film Indonesia di TIFF 2026. Festival Toronto dikenal sebagai ruang pertemuan bagi film-film dari beragam negara, industri, dan pendekatan artistik. Dalam konteks itu, kehadiran produksi Indonesia dengan jaringan koproduksi internasional dapat memperluas percakapan tentang sinema Asia Tenggara.

Perhatian tersebut juga hadir di tengah daftar film yang didominasi judul-judul dengan pemain besar dan proyek dari berbagai wilayah. Tiga proyek asal Inggris Raya turut memperoleh sorotan melalui keterlibatan Helen Mirren, Laura Linney, Rhys Ifans, Erin Doherty, dan James McAvoy.

Jodie Comer juga menjadi bagian dari perhatian di Toronto melalui “Stuffed”, film Inggris yang masuk program Discovery. Film itu mengusung komedi romantis bergaya gotik dengan arah cerita yang tidak biasa, sementara Comer turut menyumbangkan vokalnya dalam proyek tersebut.

Di antara keragaman pilihan TIFF 2026, “Empat Musim Pertiwi” hadir membawa cerita yang sangat terhubung dengan Indonesia, tetapi dikemas melalui bentuk sinema yang terbuka terhadap pembacaan internasional. Film ini menempatkan kepulangan, trauma, keberanian bertahan, dan kehidupan bersama sebagai inti narasi—sebuah perjalanan emosional yang dibingkai oleh kabut Bromo dan perubahan yang datang setelah waktu berlalu begitu lama.

Frequently Asked Questions

What is Media AS sertakan Empat Musim Pertiwi?

Media AS sertakan Empat Musim Pertiwi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Media AS sertakan Empat Musim Pertiwi matter?

Media AS sertakan Empat Musim Pertiwi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *