Skip to content
Yellow Desk
Agustus 3, 2026
Politik

New Policy: Wapres Gibran Dukung Penguatan Komoditas Pangan Lokal Papua Melalui Sekolah Lapang Sagu

Matthew Garcia 3 mins read

New Policy: Wapres Gibran Dorong Penguatan Pangan Lokal Papua Melalui Sekolah Lapang Sagu New Policy - Sebagai bagian dari New Policy pemerintah, Wakil

New Policy: Wapres Gibran Dukung Penguatan Komoditas Pangan Lokal Papua Melalui Sekolah Lapang Sagu

New Policy: Wapres Gibran Dorong Penguatan Pangan Lokal Papua Melalui Sekolah Lapang Sagu

New Policy – Sebagai bagian dari New Policy pemerintah, Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, menegaskan komitmen untuk memperkuat komoditas pangan lokal di Papua. Kegiatan ini dilakukan selama kunjungan kerja ke Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan, pada hari Minggu (21/6/2026). Dalam pidatonya, Gibran menyoroti pentingnya inisiatif seperti Sekolah Lapang Sagu sebagai contoh nyata New Policy yang mendorong kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan di daerah terpencil.

Program Sekolah Lapang Sagu: Integrasi Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat

Sekolah Lapang Sagu di Asmat, yang diinisiasi oleh Keuskupan Agats dan pemerintah daerah, menjadi pusat pelatihan pengolahan sagu untuk masyarakat Suku Asmat. Program ini tidak hanya mengajarkan teknik produksi, tetapi juga mempertahankan nilai budaya lokal melalui kegiatan sosial dan pengembangan adat. Gibran mengapresiasi pendekatan ini, karena New Policy berfokus pada pemberdayaan masyarakat melalui penggunaan sumber daya lokal yang dimiliki sejak dahulu.

“Sekolah Lapang Sagu Asmat menunjukkan bahwa New Policy yang dirancang bisa menggabungkan kearifan lokal dengan inovasi modern,” tutur Gibran, saat meninjau langsung proses pengolahan sagu di lokasi program.

Menurut data dari Dinas Pertanian Kabupaten Asmat, program ini telah melibatkan sekitar 500 anggota masyarakat dalam pelatihan yang berlangsung selama empat bulan. Dengan adanya New Policy ini, harapan besar ditempatkan pada pengurangan ketergantungan pada bahan pangan impor dan meningkatkan nilai tambah sagu melalui pengolahan menjadi produk siap konsumsi. Gibran juga menyebutkan bahwa perlu adanya New Policy yang lebih luas untuk menjangkau daerah-daerah lain di Indonesia dengan potensi komoditas pangan serupa.

Strategi Berkelanjutan dalam Meningkatkan Produksi Pangan

Kepala negara menekankan bahwa New Policy untuk pangan lokal tidak hanya berupa bantuan langsung, tetapi juga memerlukan kolaborasi antara pemerintah, tokoh adat, dan lembaga keagamaan. “Program seperti ini memastikan keberlanjutan karena melibatkan seluruh komponen masyarakat,” jelas Gibran. Ia menambahkan bahwa New Policy ini harus menjadi model nasional dalam menangani tantangan ketahanan pangan di era keterbukaan pasar.

Sagu, sebagai komoditas utama di Papua, memainkan peran strategis dalam mendukung ketahanan pangan. Dengan New Policy yang diusulkan, pemerintah menargetkan peningkatan produksi sagu hingga 30% dalam dua tahun mendatang. Selain itu, pengolahan sagu menjadi produk turunan seperti tepung sagu dan minyak sagu akan diberdayakan untuk memperkuat daya tahan ekonomi daerah. Gibran juga mengajak para petani dan masyarakat setempat untuk bersinergi dalam mengimplementasikan New Policy ini.

New Policy ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan. Dengan memperkenalkan teknik pertanian ramah lingkungan, Sekolah Lapang Sagu di Asmat menjadi contoh bagaimana New Policy bisa memadukan keberlanjutan ekologi dengan perekonomian masyarakat. Program ini juga diharapkan bisa menjadi rujukan bagi daerah-daerah lain yang ingin mengembangkan komoditas pangan lokal dengan pendekatan serupa.

Komitmen untuk Penguatan Ekonomi dan Pendidikan

Dalam kunjungannya, Gibran tidak hanya meninjau aktivitas Sekolah Lapang Sagu, tetapi juga memberikan peralatan pendidikan kepada anak-anak setempat. “Dengan New Policy ini, kami ingin memastikan bahwa generasi muda Papua memiliki akses ke pengetahuan yang diperlukan untuk membangun ekonomi daerah,” tutur Gibran. Ia menekankan bahwa pendidikan menjadi pilar utama dalam mewujudkan New Policy untuk kesejahteraan masyarakat secara jangka panjang.

Sekolah Lapang Sagu juga menjadi ajang pembelajaran untuk pengolahan sagu yang lebih efisien dan bermutu. Peserta program dilatih dalam proses penggilingan, pemrosesan, dan pengemasan sagu, sehingga mampu menghasilkan produk yang bisa dikirimkan ke pasar regional. Dengan New Policy yang dirancang, pemerintah menargetkan peningkatan keterampilan ini ke lebih dari 100 desa di Papua, dengan harapan masyarakat lebih mandiri dalam mengelola sumber daya pangan lokal.

New Policy ini juga bertujuan mengurangi risiko krisis pangan di masa depan. Dengan memperkuat komoditas lokal seperti sagu, pemerintah berupaya menciptakan ekosistem pertanian yang lebih stabil. Gibran menegaskan bahwa New Policy akan dilanjutkan melalui program bertahap, dengan pendampingan teknis dari lembaga pertanian dan penyuluh pertanian setempat. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk menjadikan Papua sebagai pusat produksi pangan yang berkelanjutan.

Dengan adanya New Policy ini, diperkirakan akan tercipta peningkatan pendapatan masyarakat lokal sebesar 20% dalam setahun. Selain itu, pemerintah juga berencana mengembangkan jaringan distribusi lokal untuk memastikan produk sagu bisa diakses oleh masyarakat Papua secara merata. Gibran berharap New Policy ini bisa menjadi percontohan nasional dalam meningkatkan ekonomi daerah dan ketahanan pangan melalui inovasi berbasis komunitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *