Skip to content
Yellow Desk
September 17, 2026
Dunia

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi rantai pasok dalam BRICS

Linda Gonzalez - kabarsatunusa.com 4 mins read

Pemerintah China menyatakan kesiapan untuk memperdalam kerja sama teknologi, industri, dan peningkatan kapasitas bersama negara-negara BRICS setelah Indonesia

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi rantai pasok dalam BRICS

China Dukung Gagasan Indonesia Perkuat Rantai Pasok BRICS

Kabarsatunusa.com – Pemerintah China menyatakan kesiapan untuk memperdalam kerja sama teknologi, industri, dan peningkatan kapasitas bersama negara-negara BRICS setelah Indonesia mendorong kolaborasi yang lebih erat dalam industrialisasi serta rantai pasok global.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan respons tersebut dalam konferensi pers di Beijing pada Senin. Dukungan itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto mengajukan gagasan kerja sama konkret pada sesi kedua KTT BRICS ke-18 di New Delhi, Minggu (13/9).

“China akan memperkuat kerja sama teknologi dengan negara-negara BRICS, memperdalam penyelarasan industri, melaksanakan proyek-proyek peningkatan kapasitas, serta mewujudkan pembangunan yang lebih berkelanjutan dengan kualitas yang lebih tinggi dan ketahanan yang lebih kuat,” kata Guo Jiakun.

Bagi Indonesia, penguatan rantai pasok tidak hanya berkaitan dengan kelancaran perdagangan. Kerja sama tersebut juga dipandang penting untuk menghubungkan sumber daya, kemampuan produksi, penguasaan teknologi, dan akses pasar di antara negara-negara anggota. Langkah ini diharapkan dapat membantu negara berkembang menghadapi tekanan ekonomi global yang saling berkaitan.

Ajakan untuk industrialisasi bersama

Dalam pernyataannya di KTT, Prabowo mengajak negara-negara BRICS membangun pendekatan bersama dalam memperkuat industri. Ia menilai negara-negara anggota memiliki potensi yang dapat dipadukan untuk menghadapi tantangan dan menjaga pertumbuhan ekonomi di kawasan Global South.

“Biarkan saya menawarkan sesuatu yang konkret. Biarkan kita industrialisasi bersama-sama dan biarkan kita mengoptimalkan sumber dan kapasitas yang kita tanggung bersama-sama,” ujar Prabowo.

Gagasan tersebut menempatkan industrialisasi sebagai agenda yang lebih luas daripada pembangunan pabrik atau peningkatan volume produksi. Dalam konteks BRICS, industrialisasi berkaitan dengan kemampuan negara anggota untuk mengolah sumber daya, mengembangkan teknologi, memperkuat jaringan produksi, dan memperluas nilai tambah di dalam negeri maupun melalui kemitraan antarnegara.

Prabowo menekankan bahwa Indonesia memiliki sejumlah modal untuk terlibat dalam agenda itu. Potensi tersebut mencakup mineral kritis dan logam tanah jarang, sumber energi terbarukan yang relevan bagi teknologi bersih dan teknologi tinggi, serta hutan yang disebut sebagai salah satu aset pembangunan masa depan.

Namun, tantangan dalam mengelola sumber daya, membangun industri, dan memperluas kesempatan ekonomi tidak hanya dihadapi Indonesia. Berbagai negara BRICS dan negara-negara Global South juga menghadapi kebutuhan serupa: meningkatkan kapasitas produksi, menjaga ketahanan pasokan, memperluas investasi, serta menciptakan lapangan kerja yang lebih banyak.

Kerja sama industri yang telah berjalan

China menilai kerja sama industrialisasi di dalam BRICS telah berkembang selama beberapa tahun. Guo menyoroti pembentukan Pusat Inovasi Kemitraan BRICS untuk Revolusi Industri Baru dan Pusat Kompetensi Industri BRICS sebagai bagian dari upaya yang telah menghasilkan sejumlah capaian nyata.

Keberadaan lembaga-lembaga tersebut menunjukkan bahwa agenda industri dan teknologi sudah menjadi bagian penting dalam kerangka BRICS. Usulan Indonesia menambah penekanan pada perlunya menghubungkan kapasitas yang telah ada dengan kebutuhan rantai pasok yang lebih tangguh, terutama ketika ketegangan geopolitik dan perubahan kondisi ekonomi global dapat memengaruhi arus barang, investasi, maupun teknologi.

Prabowo berpandangan bahwa sumber daya ekonomi negara anggota BRICS dapat digunakan secara lebih terpadu. Kolaborasi yang lebih kuat berpotensi mendukung peningkatan investasi, penguatan sektor industri, penciptaan pekerjaan, dan terbukanya kesempatan ekonomi yang lebih baik bagi masyarakat.

BRICS juga memiliki kekuatan yang saling melengkapi. Kombinasi pasar, sumber daya alam, kapasitas manufaktur, serta kemampuan teknologi dari negara-negara anggotanya memberi peluang untuk memperkuat posisi kelompok tersebut dalam rantai nilai global. Tantangannya adalah memastikan kerja sama itu menghasilkan manfaat yang lebih merata dan mendukung pembangunan berkelanjutan.

Empat fokus KTT BRICS ke-18

KTT BRICS ke-18 mengusung empat pilar utama, yaitu ketahanan, inovasi, kerja sama, dan keberlanjutan. Keempat tema itu menjadi kerangka pembahasan untuk merespons berbagai persoalan internasional, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik.

Pertemuan tersebut dihadiri Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Presiden Indonesia Prabowo Subianto, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa, Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi, Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali, Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan, serta Perdana Menteri India Narendra Modi.

Brasil mengirim Menteri Luar Negeri Mauro Vieira sebagai wakilnya. Arab Saudi diwakili Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud.

Selain anggota penuh, kerangka kerja BRICS telah menerima sejumlah negara mitra, meliputi Belarus, Bolivia, Kazakhstan, Kuba, Malaysia, Nigeria, Thailand, Uganda, Uzbekistan, dan Vietnam. Perluasan kemitraan ini memperlihatkan besarnya perhatian terhadap forum yang berupaya memperkuat suara negara-negara berkembang dalam percaturan ekonomi dan politik global.

Saat ini BRICS terdiri dari 11 negara: Brasil, China, Mesir, Ethiopia, India, Iran, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Uni Emirat Arab, dan Indonesia. Kelompok ini mewakili sekitar 49,5 persen populasi dunia, 40 persen produk domestik bruto global, serta 26 persen perdagangan global.

Dukungan China atas usulan Indonesia membuka ruang bagi pembahasan lebih lanjut mengenai bentuk kerja sama yang dapat dijalankan. Bagi Indonesia, agenda rantai pasok dan industrialisasi bersama dapat menjadi bagian dari upaya memanfaatkan kekuatan kolektif BRICS untuk memperluas nilai tambah, memperkuat ketahanan ekonomi, dan menghadapi perubahan global secara lebih terkoordinasi.

Frequently Asked Questions

What is China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matter?

China sambut usulan Indonesia soal kolaborasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *