Skip to content
Yellow Desk
September 17, 2026
Bisnis

Wamen Investasi: Pusat pengembangan bioetanol perkuat ketahanan energi

Christopher Jackson - kabarsatunusa.com 4 mins read

Pemerintah memulai pengembangan pusat bioetanol di Masgar, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, sebagai bagian dari upaya memperbesar

Wamen Investasi: Pusat pengembangan bioetanol perkuat ketahanan energi

Pusat Bioetanol di Pesawaran Disiapkan untuk Menguatkan Energi Nasional

Kabarsatunusa.com – Pemerintah memulai pengembangan pusat bioetanol di Masgar, Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran, Lampung, sebagai bagian dari upaya memperbesar pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia. Inisiatif ini diarahkan untuk membangun rantai ekonomi yang menghubungkan sektor pertanian, industri, teknologi, investasi, dan masyarakat melalui produksi bahan bakar berbasis biomassa.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, melihat proyek tersebut memiliki arti penting dalam agenda ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi, serta penguatan ekonomi nasional. Lampung dipilih karena memiliki potensi bahan baku dan ruang pengembangan yang dapat mendukung ekosistem bioetanol.

“Hari ini bila berbicara terkait ketahanan energi, hilirisasi, transisi energi atau bauran energi dan ketahanan ekonomi. Dan, dengan konteks bioetanol ini atau solar (B50), negara kita sebagai penghasil crude palm oil dengan luas sawit terbesar di dunia memiliki potensi yang sangat besar,” ujar Todotua.

Pengembangan dari Lahan hingga Pabrik

Peluncuran pusat pengembangan bioetanol tersebut mencakup tiga kegiatan yang dilakukan secara bersamaan. Agenda pertama adalah penandatanganan nota kesepahaman oleh pihak-pihak yang terlibat. Kegiatan berikutnya berupa penanaman sorgum secara simbolis, disusul pembangunan pabrik di area awal seluas 10 hektare.

Luasan pembangunan pabrik itu merupakan bagian dari target pengembangan hingga 20 hektare di Tegineneng. Kehadiran fasilitas percontohan ini diharapkan menjadi langkah awal untuk menguji, menyiapkan, dan memperluas model pengolahan biomassa menjadi bioetanol secara terintegrasi.

Program di Lampung ini juga menjadi tindak lanjut dari joint declaration in estabilishing bioetanol ecosystem development in Lampung Province. Deklarasi tersebut membuka kerja sama berbagai pihak dalam membangun ekosistem industri bioetanol, mulai dari penyediaan bahan baku hingga pengembangan teknologi dan investasi.

Sorgum Masuk dalam Strategi Bahan Baku

Salah satu komoditas yang disiapkan untuk mendukung pengembangan bioetanol adalah sorgum. Tanaman ini dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku, terutama setelah adanya riset awal di Lampung. Pemerintah ingin mempercepat penerapannya di dalam negeri agar sumber daya pertanian dapat memberi nilai tambah bagi sektor energi.

“Berbagai riset dan otomotif menyebutkan di Jepang, sorgum ini jadi bahan baku yang unggul sekali dan sangat ekonomis, sehingga saya langsung ke lokasi meninjaunya,” ucap Todotua.

Ketersediaan bahan baku menjadi unsur penting dalam industri bioetanol. Karena itu, pengembangan tidak hanya berfokus pada pabrik, tetapi juga pada pengelolaan sumber daya, dukungan lembaga terkait, serta pemberdayaan masyarakat yang berada di sekitar rantai produksi. Pendekatan tersebut diperlukan agar produksi energi terbarukan berjalan seiring dengan aktivitas ekonomi lokal.

Selain sorgum, rencana pengembangan di Lampung juga mencakup hilirisasi singkong dan jagung. Komoditas tersebut dapat membuka jalur diversifikasi bahan baku, sehingga pusat bioetanol tidak bergantung pada satu jenis tanaman saja. Pengembangan generasi pertama atau 1G dan generasi kedua atau 2G turut menjadi bagian dari strategi yang dibangun.

Menjawab Kebutuhan Bensin yang Besar

Urgensi pengembangan etanol berkaitan dengan tingginya konsumsi bensin di Indonesia. Penggunaan bensin nasional saat ini disebut mencapai 36 juta kiloliter per tahun. Angka tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan energi untuk transportasi dan kegiatan ekonomi sehari-hari.

“Ternyata, sejak awal riset di Lampung ini bisa dikembangkan. Dan basis utama yang jadi perimbangan pengembangan ini adalah saat ini penggunaan bensin nasional sebanyak 36 juta kilo liter per tahun, jadi sudah sangat diperlukan pengembangan etanol,” katanya.

Bioetanol dipandang sebagai salah satu opsi untuk memperluas bauran energi. Dalam konteks ini, pengembangan fasilitas di Tegineneng bukan semata proyek pembangunan pabrik, melainkan bagian dari persiapan sistem yang lebih luas: penyediaan biomassa, pengolahan, pengujian teknologi, penguatan kerja sama industri, serta pembentukan pasar energi berbasis bahan terbarukan.

Lampung disebut memiliki kapasitas 430 ribu KL dalam strategi pengembangan tersebut. Arah utamanya mencakup reaktivasi, penguatan sinergi dengan PTPN, pengembangan sorgum terpadu, pusat percontohan biomassa, hilirisasi komoditas pertanian, hingga konversi pabrik. Seluruh unsur itu ditujukan untuk membantu memperkuat ketahanan energi.

Kolaborasi Pemerintah dan Industri

Pusat pengembangan bioetanol di Pesawaran dijalankan melalui kolaborasi Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Pemerintah Provinsi Lampung, PT Pertamina New and Renewable Energy atau PNRE, PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia atau TMMIN, PT Toyota Tsusho Indonesia atau TTI, serta pemangku kepentingan lainnya.

Keterlibatan berbagai institusi menunjukkan bahwa pengembangan bioetanol memerlukan kerja lintas sektor. Pemerintah memiliki peran dalam menyiapkan arah kebijakan dan iklim investasi, sementara pelaku industri dapat mendukung sisi teknologi, manufaktur, rantai pasok, serta penerapan hasil pengembangan di lapangan.

Bagi Lampung, proyek ini membawa peluang untuk memperkuat posisi daerah dalam pengolahan produk pertanian bernilai tambah. Bahan baku yang selama ini berada di hulu dapat dikaitkan dengan kebutuhan industri energi, dengan tetap membutuhkan kesiapan produksi, infrastruktur, teknologi, dan kerja sama yang berkelanjutan.

Pengembangan bioethanol development center di Tegineneng juga ditempatkan sebagai bagian dari upaya mendukung ketahanan energi nasional dan Astacita Presiden. Tahap awal yang telah dimulai melalui penandatanganan kerja sama, penanaman sorgum, serta pembangunan fasilitas diharapkan menjadi fondasi bagi terbentuknya ekosistem bioetanol yang lebih kuat di Lampung.

Frequently Asked Questions

What is Wamen Investasi?

Wamen Investasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Wamen Investasi matter?

Wamen Investasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *