Skip to content
Yellow Desk
September 17, 2026
Bisnis

Pertagas Niaga serap CBG limbah sawit produksi PalmCo-reNIKOLA

Emily Jackson - kabarsatunusa.com 4 mins read

Pengolahan limbah cair dari delapan pabrik kelapa sawit PTPN IV PalmCo akan menjadi sumber gas biometana terkompresi atau compressed biomethane gas (CBG)

Pertagas Niaga serap CBG limbah sawit produksi PalmCo-reNIKOLA

Kolaborasi CBG dari Limbah Sawit Dorong Pasokan Energi Rendah Karbon

Kabarsatunusa.com – Pengolahan limbah cair dari delapan pabrik kelapa sawit PTPN IV PalmCo akan menjadi sumber gas biometana terkompresi atau compressed biomethane gas (CBG) untuk kebutuhan industri. PT Pertagas Niaga (PTGN) telah menyiapkan penyerapan pasokan tersebut dalam kerja sama jangka panjang bersama PT reNIKOLA Primer Energi (RPE).

Inisiatif ini menghubungkan limbah proses pengolahan sawit dengan jaringan distribusi gas yang telah tersedia. Selain menambah pilihan energi yang lebih rendah karbon, proyek ini dirancang untuk mendukung ketahanan energi nasional melalui pemanfaatan sumber daya di dalam negeri.

Limbah sawit diolah menjadi biometana

Bahan baku CBG berasal dari palm oil mill effluent (POME), yakni limbah cair yang timbul dari kegiatan pabrik kelapa sawit. Dalam proses penguraiannya, limbah tersebut menghasilkan metana. Fasilitas CBG akan menangkap gas itu, lalu memurnikannya menjadi biometana yang dapat digunakan sebagai energi.

RPE, perusahaan afiliasi pengembang energi terbarukan reNIKOLA Holdings Sdn Bhd, akan membangun dan mengoperasikan fasilitas pengolahan tersebut. Delapan fasilitas yang dikembangkan akan berada dalam sejumlah klaster dan memanfaatkan pasokan limbah dari pabrik-pabrik PalmCo.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K Santosa menilai proyek ini menjadi penerapan nyata ekonomi sirkular di lingkungan perusahaan. Limbah yang sebelumnya hanya menjadi sisa proses produksi dapat memperoleh nilai baru sebagai sumber energi terbarukan.

“Kolaborasi ini mencerminkan komitmen kami untuk meningkatkan keberlanjutan operasional sekaligus menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang ada,” kata Jatmiko.

Pemanfaatan emisi metana dari limbah pabrik kelapa sawit juga memiliki arti penting dalam agenda pembangunan rendah karbon. Metana merupakan gas yang perlu dikelola secara baik agar tidak lepas begitu saja ke atmosfer. Dengan ditangkap dan diolah, gas tersebut dapat menjadi produk energi yang berguna bagi pengguna akhir.

PTGN menyerap pasokan selama 15 tahun

RPE telah menandatangani perjanjian penjualan CBG berjangka panjang dengan PTGN, anak usaha PT Pertamina Gas (Pertagas). Dalam kesepakatan itu, PTGN akan berperan sebagai pembeli atau penyerap CBG selama 15 tahun.

Susunan kerja sama ini membagi peran sepanjang rantai pasok. PalmCo menyediakan bahan baku dari limbah pabrik kelapa sawit. reNIKOLA mengembangkan fasilitas yang mengubah bahan baku tersebut menjadi CBG. Setelah itu, Pertagas Niaga menyalurkan gas biometana kepada konsumen industri.

Chief Operating Officer reNIKOLA Amran Yusof menyampaikan bahwa pengaturan tersebut dirancang untuk mempertemukan tiga unsur utama: ketersediaan bahan baku, infrastruktur penyaluran gas, dan kebutuhan pasar dalam jangka panjang. Keterhubungan tersebut dinilai menjadi fondasi bagi pengembangan ekosistem biometana yang lebih luas di Indonesia.

“Dengan mempertemukan pemasok bahan baku, penyedia infrastruktur gas, dan permintaan pasar jangka panjang, kami membangun ekosistem biometana yang dapat dikembangkan secara luas,” kata Amran.

Investasi untuk pengembangan delapan klaster fasilitas CBG diperkirakan mencapai sekitar 45 juta dolar AS, setara kurang lebih Rp790 miliar. Ketika pembangunan telah rampung dan seluruh unit beroperasi penuh, proyek tersebut ditargetkan mampu memasok lebih dari 830.000 MMBtu energi terbarukan setiap tahun.

Besaran pasokan itu menunjukkan bahwa biometana dapat menjadi pelengkap penting dalam bauran energi untuk sektor industri. Pemanfaatannya juga memungkinkan energi dari limbah diproduksi di dekat sumber bahan baku sebelum kemudian dihubungkan ke sistem distribusi yang melayani pengguna.

Rencana stasiun injeksi di sekitar KEK Sei Mangkei

Untuk mendukung penyaluran CBG, PTGN merencanakan pembangunan stasiun injeksi biometana di sekitar Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei. Stasiun ini dirancang sebagai titik penghubung antara pasokan CBG dari pabrik kelapa sawit dan jaringan distribusi gas yang telah beroperasi.

Keberadaan fasilitas injeksi akan memungkinkan biometana masuk ke jaringan gas yang tersedia, sehingga akses industri terhadap energi rendah karbon dapat diperluas tanpa harus membangun sistem distribusi baru secara terpisah. Pendekatan tersebut juga membantu mengoptimalkan pemanfaatan infrastruktur gas yang sudah ada.

Direktur Utama PTGN Toto Yulianto menekankan bahwa integrasi CBG ke jaringan gas dapat membuka jalur baru bagi konsumen industri untuk memakai energi yang lebih bersih.

“Melalui kolaborasi ini, kami menciptakan jalur bagi biometana untuk diintegrasikan ke dalam jaringan gas yang ada, memperluas akses terhadap energi yang lebih bersih sekaligus memanfaatkan infrastruktur yang telah tersedia,” kata Toto.

Target emisi dan manfaat ekonomi lokal

Pengoperasian delapan fasilitas CBG diperkirakan mampu menekan emisi gas rumah kaca sampai 320.000 ton setara karbon dioksida per tahun. Perusahaan menyatakan dampak pengurangan tersebut sebanding dengan menghindari pembakaran sekitar 161 juta kilogram batu bara dalam satu tahun.

Direktur Strategy and Sustainability PTPN IV PalmCo Ugun Untaryo menyebut pembangunan fasilitas ini menjadi bagian dari pelaksanaan peta jalan dekarbonisasi PalmCo. Program tersebut juga sejalan dengan tujuan nasional untuk mencapai Nol Emisi Karbon.

Di luar manfaat terhadap emisi, fase pembangunan maupun operasi fasilitas CBG diproyeksikan menciptakan ribuan pekerjaan hijau. Rantai pasok lokal di sekitar area perkebunan juga berpeluang ikut bergerak melalui kebutuhan jasa, tenaga kerja, dan aktivitas pendukung proyek.

Kolaborasi PalmCo, reNIKOLA, dan Pertagas Niaga memperlihatkan bagaimana sektor perkebunan, pengembang energi terbarukan, serta jaringan gas dapat saling melengkapi. Limbah sawit tidak hanya dikelola sebagai konsekuensi produksi, melainkan diposisikan sebagai bahan baku energi yang dapat memasok kebutuhan industri sekaligus membantu menurunkan jejak karbon.

Frequently Asked Questions

What is Pertagas Niaga serap CBG limbah sawit?

Pertagas Niaga serap CBG limbah sawit is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pertagas Niaga serap CBG limbah sawit matter?

Pertagas Niaga serap CBG limbah sawit matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *