PSEL Galuga Siapkan Insinerator China untuk Ubah Sampah Menjadi Listrik
Kabarsatunusa.com – Kabupaten Bogor menyiapkan langkah besar dalam penanganan sampah melalui pembangunan Fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL Galuga. Proyek ini dirancang untuk mengolah sampah harian dari Kabupaten Bogor dan Kota Bogor menjadi energi yang nantinya disalurkan ke jaringan PLN.
Fasilitas tersebut akan menggunakan teknologi insinerator asal China. Seluruh perangkat utama proyek akan dipasok oleh pihak engineering, procurement, and construction (EPC), termasuk unit insinerator yang menjadi inti proses pengolahan sampah.
“Mesin semua sudah disediakan oleh pihak EPC. Insinerator itu dari negara Tiongkok,” kata Senior Vice President Stakeholder Relation Danantara Dede Firmansyah di Sentul, Rabu.
Penggunaan insinerator diarahkan untuk menangani sampah baru atau fresh waste yang terus dihasilkan setiap hari. Artinya, operasi PSEL Galuga tidak diprioritaskan untuk langsung menghabiskan tumpukan sampah lama yang telah berada di Tempat Pembuangan Akhir Galuga selama puluhan tahun.
Pasokan Sampah Diproyeksikan Mencukupi
Agar dapat beroperasi secara optimal, PSEL Galuga membutuhkan pasokan sekitar 2.000 ton sampah per hari. Kebutuhan itu akan dipenuhi melalui penyediaan sampah dari dua wilayah, yakni Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.
Volume sampah dari Kabupaten Bogor tercatat berada di kisaran 3.000 ton setiap hari. Sementara itu, Kota Bogor menghasilkan sekitar 700 hingga 1.000 ton sampah per hari. Total produksi tersebut menunjukkan ketersediaan bahan baku untuk fasilitas pengolahan energi dinilai memadai, bahkan sebelum memperhitungkan sampah lama yang sudah menumpuk di Galuga.
“Jadi untuk kondisi hari ini, sampah surplus. Bahkan dengan kondisi terbakar kemarin pun, jumlah timbunan sampah masih sangat banyak,” kata Bupati Bogor Rudy Susmanto.
Ketersediaan sampah menjadi unsur penting dalam proyek pembangkit berbasis pengolahan sampah. Kapasitas listrik yang dapat dihasilkan tidak hanya ditentukan oleh banyaknya material yang masuk, tetapi juga kualitas sampah yang diproses. Karena itu, pemisahan jenis sampah, pengangkutan yang konsisten, dan pasokan harian yang stabil akan menjadi bagian penting dari kesiapan operasi fasilitas tersebut.
Standar Emisi Menjadi Perhatian Utama
Teknologi insinerator telah dipakai di sejumlah negara, termasuk China serta berbagai negara di Eropa. Dalam penerapannya di Galuga, salah satu perhatian utama berada pada pengendalian emisi hasil proses pembakaran.
Dede Firmansyah menyampaikan bahwa sistem ini dirancang dengan standar emisi tinggi yang mengacu pada standar Eropa. Pengendalian emisi menjadi faktor krusial karena fasilitas pengolahan sampah termal harus memastikan gas buang dari proses pengolahan dapat dikelola dengan ketat.
“Salah satu kelebihannya adalah buangan dari emisinya itu memang sangat dijaga dengan standar yang sangat tinggi, standar Eropa,” ujarnya.
Bagi warga di sekitar kawasan pengolahan, aspek tersebut memiliki arti langsung. Kehadiran PSEL bukan sekadar soal mengurangi sampah yang masuk ke tempat pembuangan, melainkan juga soal bagaimana proses konversi sampah menjadi listrik dilakukan dengan pengawasan lingkungan yang memadai.
Lahan Awal 10 Hektare dan Investasi 160 Juta Dolar AS
Pemerintah Kabupaten Bogor telah menyiapkan lahan awal seluas 10 hektare untuk pembangunan PSEL Galuga. Area itu masih dapat diperluas hingga sekitar 24 hektare apabila pengembangan kapasitas diperlukan di masa mendatang.
Nilai investasi awal proyek ini mencapai 160 juta dolar AS. Tahap konstruksi dijadwalkan dimulai setelah agenda peletakan batu pertama atau groundbreaking pada Kamis, 17 September. PSEL Galuga ditargetkan mulai beroperasi antara kuartal II dan kuartal III tahun 2028.
Apabila beroperasi sesuai target, listrik dari fasilitas ini akan diserap PLN sebagai offtaker. Daya yang dihasilkan diperkirakan berada pada rentang 20 sampai 30 megawatt, dengan angka akhir bergantung pada jumlah serta karakteristik sampah yang masuk ke fasilitas.
Kapasitas tersebut memperlihatkan fungsi ganda PSEL Galuga: membantu mengurangi tekanan akibat produksi sampah harian sekaligus menghasilkan energi listrik. Model ini menempatkan sampah sebagai material yang dapat diolah, selama pengelolaan dari hulu hingga hilir berjalan konsisten.
Residu dan Sampah Lama Ditangani dengan Jalur Berbeda
Selain area pengolahan utama, pengelola telah menyiapkan lahan untuk menangani residu berupa fly ash dan bottom ash, yang biasa disebut FABA. Ketersediaan ruang khusus untuk residu menjadi bagian dari kebutuhan operasional karena proses insinerasi tidak menghilangkan seluruh material secara otomatis.
Sementara itu, timbunan sampah lama di TPA Galuga akan ditangani melalui pendekatan berbeda. Material yang telah tertimbun selama puluhan tahun itu direncanakan diolah memakai teknologi pirolisis untuk menghasilkan bahan bakar cair.
Pemisahan strategi antara sampah baru dan sampah lama memperlihatkan bahwa persoalan Galuga mencakup dua kebutuhan sekaligus: menjaga agar sampah harian tidak terus memperbesar timbunan, serta mencari penanganan bagi akumulasi sampah dari masa sebelumnya. Dengan pembangunan PSEL, Kabupaten Bogor dan Kota Bogor menyiapkan infrastruktur baru untuk menghadapi volume sampah yang terus muncul setiap hari.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is PSEL Galuga bakal gunakan teknologi insinerator?
PSEL Galuga bakal gunakan teknologi insinerator is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does PSEL Galuga bakal gunakan teknologi insinerator matter?
PSEL Galuga bakal gunakan teknologi insinerator matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
