KTT Tokoh Agama: Fokus pada Pemberdayaan Pemuda dan Teknologi AI
Topics Covered dalam KTT ke-3 Tokoh Agama Sedunia yang berlangsung pada 17-18 Juni 2023 di Kuala Lumpur, Malaysia, mencakup dua isu utama: penguatan peran pemuda dalam pembangunan masyarakat dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pertemuan ini dihadiri oleh lebih dari 200 tokoh agama dari 30 negara, termasuk utusan dari Tahta Suci Vatikan, Pater Markus Solo. Dalam rilis resmi yang diterima di Jakarta, dikemukakan bahwa diskusi membahas pentingnya kolaborasi lintas agama untuk menciptakan pemuda yang kompeten dan beretika dalam era transformasi digital.
KTT dan Pemuda: Masa Depan yang Dipersiapkan
KTT ini diselenggarakan oleh Liga Muslim Dunia (Wifaq) yang bermarkas di Riyadh, Arab Saudi, dan Pemerintah Malaysia. Dengan tema “Pemberdayaan Kaum Muda”, peserta menjelaskan strategi untuk melibatkan generasi muda dalam berbagai aspek kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya. Topics Covered menyebutkan bahwa pemanfaatan AI tidak hanya terbatas pada sektor teknologi, tetapi juga harus diintegrasikan ke dalam pendidikan dan pengembangan kepemimpinan pemuda. Padre Marco, wakil Vatikan, mengatakan,
“Pemuda di Asia Tenggara memiliki potensi besar untuk menjadi motor perubahan jika dilatih dengan pendekatan teknologi dan nilai spiritual yang seimbang.”
Salah satu Topics Covered dalam KTT adalah pembahasan tentang literasi digital dan etika penggunaan AI. Delegasi dari Kemenag RI menggarisbawahi kebutuhan untuk mencetak santri yang paham tentang dunia digital, termasuk kemampuan mengoperasikan AI dalam konteks agama. Di tingkat daerah, Pemerintah Kota Kediri dan MUI Karawang aktif mengadakan pelatihan kader ulama yang menekankan kompetensi teknis dan pemahaman tentang dampak AI terhadap masyarakat. Aktivitas ini dilakukan guna menjawab tantangan digitalisasi pendidikan dan memastikan pemuda tetap menjadi pilar bangsa yang tangguh.
Pemanfaatan Teknologi AI: Strategi untuk Pemuda Muslim
Pertemuan KTT juga membahas bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai alat untuk memberdayakan pemuda. Menko PMK Pratikno mengingatkan bahwa pemuda harus memiliki kemampuan teknis untuk berpartisipasi dalam era digital. Ia menekankan pentingnya menggabungkan pengetahuan teknologi dengan prinsip Islam, seperti Topics Covered dalam rilis yang menyebutkan bahwa AI dapat digunakan untuk mengembangkan pendidikan agama dan memperkuat syiar Islam secara global. Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat menambahkan bahwa pemuda harus diberikan wawasan kebangsaan dan sejarah untuk memahami peran mereka dalam membangun bangsa.
Di sisi lain, KTT ini juga menyampaikan kepentingan dialog antaragama dalam menghadapi perubahan sosial dan teknologi. Pater Markus Solo menyebutkan bahwa Topics Covered dalam sesi dialog menunjukkan kesamaan nilai antarumat beragama, terutama dalam sikap inklusif dan kerja sama. Aktivitas seperti kunjungan ke Masjid Raya Negeri Sabah di Kota Kinabalu menjadi bukti keharmonisan antaragama, di mana delegasi Vatikan berdiskusi tentang bagaimana AI dapat diterapkan dalam pendidikan agama dan kegiatan sosial. Diskusi ini juga melibatkan para pemuka agama lokal yang menjadi pelaku langsung dalam pemanfaatan teknologi untuk masyarakat.
Pemanfaatan AI dalam pemberdayaan pemuda di KTT ini dilihat sebagai bagian dari inisiatif global untuk menghadapi revolusi industri 4.0. Topics Covered menyebutkan bahwa teknologi tidak hanya memberikan kemudahan, tetapi juga tantangan baru dalam bentuk informasi yang cepat berubah dan beragam. Oleh karena itu, program pelatihan untuk pemuda harus mencakup pelajaran tentang AI, seperti bagaimana menggunakannya untuk kebaikan umat dan meminimalkan dampak negatif. Kemenag RI menyetujui langkah-langkah ini sebagai bagian dari implementasi PP TUNAS (Peraturan Presiden Tentang Penguatan Pendidikan dan Pengembangan Kader Ulama).
KTT Tokoh Agama Sedunia juga menjadi panggung untuk menyoroti peran pemuda dalam memperkuat hubungan internasional. Topics Covered dalam pertemuan tersebut menekankan bahwa pemuda harus menjadi jembatan antarbangsa, terutama dalam era globalisasi dan digitalisasi. Menurut peserta, kolaborasi antaragama melalui pemuda bisa menjadi langkah strategis untuk menjaga kedamaian dan perdamaian di tengah perbedaan budaya. Dalam rangkaian kegiatan, Pemerintah Kabupaten Bekasi menunjukkan contoh nyata dengan melatih 40 mahasantri menjadi ulama berbasis digital, sehingga mereka bisa memberikan kontribusi lebih besar dalam masyarakat.
