UI Luncurkan Inovasi PHBS Berbasis Budaya Sunda
Main Agenda: Universitas Indonesia (UI) meluncurkan inisiatif pendidikan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang memadukan nilai budaya lokal melalui permainan ular tangga berbahasa Sunda. Inovasi ini bertujuan meningkatkan pemahaman anak-anak tentang kebersihan dan kesehatan secara lebih efektif dan menyenangkan. Kegiatan ini dilaksanakan di Purwakarta, Jawa Barat, sebagai bagian dari program pengabdian masyarakat yang berfokus pada pengembangan literasi kesehatan di komunitas adat.
Struktur Permainan yang Berakar Budaya
Program ini mengadaptasi permainan ular tangga tradisional Sunda untuk menjadi alat edukasi yang interaktif dan relevan dengan kehidupan sehari-hari anak. Setiap kotak pada papan permainan dirancang untuk menyampaikan pesan kesehatan penting, seperti teknik cuci tangan sesuai standar WHO, cara menyikat gigi yang tepat, serta praktik pemilahan sampah berdasarkan jenisnya. Desain permainan ini menekankan keakraban dengan lingkungan budaya setempat, sehingga peserta lebih mudah merasakan relevansi materi yang diberikan.
Para mahasiswa UI, terutama dari Fakultas Ilmu Keperawatan (FIK), menjadi pengelola utama acara ini. Mereka menyesuaikan elemen-elemen permainan dengan tradisi Sunda, termasuk menyertakan aktivitas seperti menangkap ikan, berbagi makanan tradisional, dan mengenalkan seni tarian lokal. Hal ini memberikan pengalaman belajar yang lebih menyeluruh, karena anak-anak tidak hanya belajar tentang PHBS, tetapi juga terlibat langsung dalam kegiatan budaya. Main Agenda dari program ini adalah membangun kebiasaan sehat yang berkelanjutan melalui pendekatan lokal dan inklusif.
Manfaat Kolaborasi dengan Komunitas Adat
Kolaborasi antara UI dengan masyarakat adat di Purwakarta menjadi pilar utama keberhasilan inisiatif ini. Mahasiswa dari sembilan negara berpartisipasi dalam program ini, memperkaya perspektif pendidikan kesehatan secara global. Dengan menggabungkan kearifan lokal dan pengetahuan internasional, pendekatan ini tidak hanya meningkatkan literasi kesehatan, tetapi juga memperkuat jembatan antarbudaya. Main Agenda dari acara ini mencakup pembelajaran lintas budaya yang mendidik dan humanis.
Prof. Enie Novieastari, Ketua Klaster Riset Ethno-Nursing and Cultural Care di FIK UI, menjelaskan bahwa penggunaan bahasa Sunda dalam permainan memastikan pesan kesehatan disampaikan secara efektif. “Pendekatan ini membantu anak-anak mengakses informasi dengan lebih mudah, karena mereka lebih nyaman berbicara dalam bahasa yang familiar,” tambahnya. Selain itu, kegiatan ini memberikan kesempatan bagi peserta internasional untuk belajar budaya Sunda secara langsung, termasuk memahami sejarah, instrumen musik, dan nilai-nilai tradisional yang terkait dengan kesehatan.
Respon Positif dari Masyarakat Lokal
Program ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Orang tua peserta, seperti Ibu Yayah, menyebutkan bahwa anak-anak sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut. “Anak-anak suka belajar dengan cara yang menyenangkan, terutama ketika menggunakan media permainan. Main Agenda ini memberikan pengalaman yang berbeda dari metode pembelajaran biasa,” ujarnya. Selain itu, partisipasi mahasiswa asing menambah daya tarik program, karena mereka bisa belajar Bahasa Inggris sekaligus memahami budaya Indonesia.
Menurut Md Sajib Raihan, mahasiswa internasional asal Bangladesh, pengalaman di Purwakarta sangat unik. “Saya merasa terhubung dengan budaya Sunda melalui aktivitas seperti bermain ular tangga dan mempelajari tradisi lokal. Main Agenda ini bukan hanya tentang kesehatan, tetapi juga tentang menghargai keanekaragaman budaya,” katanya. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan bisa menjadi alat untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mendorong kolaborasi antarbangsa.
Dengan memadukan PHBS dan budaya Sunda, inovasi ini menjadi contoh terbaik bagaimana pendidikan bisa disesuaikan dengan konteks lokal. Program ini juga berpotensi menjadi model yang dapat diadopsi di daerah lain, selama ini sebagai Main Agenda UI dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui pendekatan yang humanis dan berwawasan global. Selain memperkuat praktik keperawatan, UI juga berharap inisiatif ini mampu melestarikan nilai-nilai tradisional dalam konteks modern.
Dalam jangka panjang, UI berencana mengembangkan program serupa di kawasan lain dengan budaya yang berbeda. Main Agenda dari inovasi ini adalah menciptakan sistem pendidikan yang adaptif, sehingga masyarakat bisa belajar kebiasaan sehat yang sesuai dengan kehidupan mereka. Dengan pendekatan ini, anak-anak tidak hanya memahami prinsip kesehatan, tetapi juga merasa bangga pada budaya yang mereka warisi. Kegiatan edukasi berbasis budaya seperti ini menunjukkan komitmen UI dalam mewujudkan kesehatan yang inklusif dan berkelanjutan.
