Main Agenda: Perempuan Desa Gerakkan Ekonomi dan Kepemimpinan
Main Agenda adalah momentum penting untuk menggali potensi perempuan desa sebagai pilar penggerak pembangunan. Dalam dunia keseharian, perempuan sering kali menjadi tulang punggung keluarga, mengatur rumah tangga, serta mengembangkan usaha sampingan. Namun, di balik kontribusi yang sebelumnya berlangsung mandiri, kini mereka dihimpun dalam sebuah gerakan terstruktur melalui Srikandi Jaga Desa. Organisasi ini berperan sebagai alat untuk memperkuat keberdayaan perempuan dalam menjaga kestabilan sosial, meningkatkan kualitas ekonomi, dan memastikan masa depan generasi muda yang lebih baik.
Struktur Terorganisasi untuk Memperkuat Peran Perempuan
Munas pertama Srikandi Jaga Desa diadakan di Jakarta pada Kamis (2/7), menjadi langkah awal dalam menyusun perencanaan kepemimpinan berbasis gender. Acara ini menjadi forum untuk menggali visi bersama para pengurus daerah dan pusat sebelum proses pelantikan resmi yang dijadwalkan hari berikutnya. Dalam rangkaian diskusi, peserta membahas bagaimana perempuan bisa lebih aktif dalam pengambilan keputusan lokal, serta memastikan keterlibatan mereka dalam proyek pembangunan desa yang berkelanjutan.
“Main Agenda ini adalah kesempatan untuk mengubah pola partisipasi perempuan dari peserta menjadi pengambil kebijakan. Dengan Srikandi Jaga Desa, perempuan tidak hanya menjadi penjaga rumah tangga, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam membangun ekonomi desa dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia,” ujar salah satu peserta Munas.
Data yang Mengukuhkan Peran Perempuan Desa
Statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2024 menunjukkan bahwa sekitar 64,5 persen pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Indonesia adalah perempuan, sebanyak 37 juta orang. Sektor ini juga menyumbang sekitar 61 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Fakta ini menegaskan bahwa perempuan desa bukan hanya penjaga keluarga, tetapi juga aktor utama dalam menggerakkan perekonomian lokal. Srikandi Jaga Desa diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam kegiatan ekonomi dan sosial secara sistematis.
Ketua Umum DPP Srikandi Jaga Desa, Ella Nurlaela Tubagoes, menjelaskan bahwa organisasi ini bertujuan memperkuat keberdayaan perempuan melalui kolaborasi antar desa. “Main Agenda kita adalah membangun jaringan solidaritas perempuan yang mampu mengawal kebijakan desa dari basis masyarakat,” tambahnya. Dalam kegiatan ini, perempuan tidak hanya mendapatkan ruang untuk berbicara, tetapi juga menjadi bagian dari solusi nyata untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Kemitraan dalam Memajukan Desa
Komitmen organisasi ini didukung oleh berbagai tokoh yang hadir, termasuk Dewan Pembina Sherly Tjoanda Laos. Ia menekankan bahwa perempuan desa memiliki peran kritis dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan ketahanan sosial. “Main Agenda Srikandi Jaga Desa adalah mengubah keterlibatan perempuan dari fungsi tradisional ke posisi strategis dalam pengambilan keputusan,” tutur Sherly. Pesan ini menjadi dasar untuk menyusun program-program yang melibatkan perempuan dalam setiap tahapan pembangunan desa.
“Kita harus memastikan bahwa Main Agenda tidak hanya sekadar acara, tetapi menjadi strategi jangka panjang untuk mengubah pola pemimpinan desa. Perempuan mesti dianggap sebagai bagian integral dari kepemimpinan dan pemberdayaan masyarakat,” imbuh Sherly dalam sambutannya.
Kekuatan Perempuan dalam Memimpin Desa
Dalam proses pelantikan kepengurusan, Srikandi Jaga Desa menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan desa tidak bisa terlepas dari peran perempuan. Mereka menjadi penopang utama dalam mengelola sumber daya lokal, baik melalui pertanian, perternakan, maupun usaha kerajinan. Melalui Main Agenda, organisasi ini berupaya menyediakan pelatihan, akses modal, dan ruang diskusi agar perempuan bisa mengambil peran aktif dalam pengambilan keputusan.
Peran perempuan tidak hanya terbatas pada perekonomian. Mereka juga menjadi garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan, mengedukasi anak-anak, dan memperkuat solidaritas sosial. “Main Agenda ini adalah perwujudan komitmen untuk membangun desa yang inklusif, di mana perempuan tidak hanya diakui, tetapi juga dipercaya sebagai pengambil kebijakan,” kata Prof. Reda Manthovani, yang menjadi pembicara utama dalam acara tersebut.
Kemitraan antara Srikandi Jaga Desa dan pemerintah desa menjadi bagian penting dari strategi Main Agenda. Organisasi ini diharapkan bisa menjadi mitra yang mampu mengawal program pemberdayaan perempuan, termasuk pemberdayaan ekonomi dan pendidikan. Dengan main agenda yang terencana, perempuan desa bisa memperkuat posisi mereka dalam menjaga keberlanjutan pembangunan di tingkat akar rumput.
