Skip to content
Yellow Desk
September 19, 2026
Lifestyle

Studi: Semakin banyak bahasa dikuasai, penuaan otak cenderung melambat

Susan Anderson - kabarsatunusa.com 4 mins read

Studi - Menggunakan lebih dari satu bahasa dalam kehidupan sehari-hari dapat berkaitan dengan aktivitas otak yang tampak lebih muda. Temuan ini muncul dari

Studi: Semakin banyak bahasa dikuasai, penuaan otak cenderung melambat

Kemampuan Multibahasa Dikaitkan dengan Penuaan Otak yang Lebih Lambat

Kabarsatunusa.com – Studi – Menggunakan lebih dari satu bahasa dalam kehidupan sehari-hari dapat berkaitan dengan aktivitas otak yang tampak lebih muda. Temuan ini muncul dari penelitian yang melibatkan 728 peserta di wilayah Basque, Spanyol, sebuah kawasan dengan lingkungan linguistik yang beragam.

Riset tersebut mengamati peserta yang menguasai hingga empat bahasa. Hasilnya menunjukkan pola bertahap: semakin banyak bahasa yang dapat digunakan, semakin besar pula selisih antara usia biologis seseorang dan perkiraan usia aktivitas otaknya.

Peserta bilingual memperlihatkan aktivitas otak yang diperkirakan sekitar enam tahun lebih muda dibandingkan orang yang hanya memakai satu bahasa. Pada peserta yang menguasai tiga bahasa, perbedaan itu mencapai kira-kira tujuh tahun. Sementara itu, mereka yang mampu menggunakan empat bahasa menunjukkan aktivitas otak yang tampak hingga 13 tahun lebih muda.

Usia Otak Diukur dari Aktivitas Sel Saraf

Para peneliti memanfaatkan alat perekam aktivitas sel-sel otak untuk memetakan pola kerja otak para peserta. Informasi yang terkumpul kemudian dipakai untuk menghasilkan estimasi “usia otak” atau brain age, yaitu gambaran usia fungsi otak yang tidak selalu sama dengan usia seseorang di kalender.

Dalam konteks ini, usia otak yang terlihat lebih muda tidak berarti seseorang berhenti mengalami perubahan akibat pertambahan umur. Istilah tersebut menggambarkan bahwa pola aktivitas otaknya lebih menyerupai pola yang lazim terlihat pada orang dengan usia lebih muda.

Penelitian ini dipresentasikan dalam forum Federation of European Neuroscience Societies atau FENS. Tim riset berasal dari Basque Center on Cognition, Brain and Language di San Sebastián dan dipimpin oleh Lucia Amoruso.

Bukan Hanya Soal Jumlah Bahasa

Jumlah bahasa bukan satu-satunya unsur yang berhubungan dengan perkiraan usia otak. Tingkat kemampuan berbahasa serta usia ketika seseorang mulai mempelajari bahasa kedua juga memiliki kaitan. Dengan kata lain, pengalaman multibahasa tidak cukup dinilai dari banyaknya bahasa yang pernah dipelajari.

Penggunaan yang aktif, durasi pengalaman, dan kelancaran seseorang ketika berkomunikasi menjadi bagian penting dalam gambaran tersebut. Seseorang yang memahami beberapa bahasa tetapi jarang menggunakannya dapat memiliki pengalaman yang berbeda dengan orang yang secara rutin berpindah bahasa dalam pekerjaan, keluarga, pendidikan, atau pergaulan.

Pengalaman menggunakan banyak bahasa memiliki dampak yang berlangsung secara bertahap, terkait dengan kemampuan berbicara dua bahasa maupun kualitas dan lamanya penggunaan bahasa tersebut.

Pernyataan itu menekankan bahwa manfaat potensial dari pengalaman bahasa tidak dapat dipersempit menjadi label sederhana, seperti monolingual atau bilingual. Intensitas penggunaan bahasa dapat menjadi bagian dari pengalaman kognitif yang lebih luas.

Aktivitas Mental dan Sosial Tetap Berperan

Temuan ini tidak menunjukkan bahwa menguasai bahasa tambahan menjadi satu-satunya penyebab penuaan otak berjalan lebih lambat. Kebiasaan hidup, keterlibatan sosial, serta aktivitas yang menantang kemampuan berpikir juga dapat memengaruhi kesehatan otak sepanjang hidup.

Karena itu, hubungan antara multibahasa dan usia otak perlu dipahami secara hati-hati. Orang yang aktif memakai beberapa bahasa mungkin juga memiliki latar pendidikan, pekerjaan, hubungan sosial, atau rutinitas harian yang turut melatih kemampuan kognitifnya. Penelitian seperti ini membantu melihat pola hubungan, tetapi tidak menyederhanakan kesehatan otak menjadi satu kebiasaan tunggal.

Bagi pembaca, hasil ini dapat menjadi pengingat bahwa belajar bahasa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan komunikasi. Proses memahami kosakata baru, mengenali struktur kalimat, memilih kata yang sesuai, serta menyesuaikan diri dengan lawan bicara melibatkan perhatian dan ingatan. Pengalaman itu juga sering membuka akses ke interaksi sosial dan budaya yang lebih luas.

Bahasa Tambahan Memiliki Nilai di Berbagai Tahap Kehidupan

Belajar bahasa baru tidak harus dimulai sejak usia dini agar tetap bernilai. Penelitian ini memasukkan usia saat peserta mulai mempelajari bahasa kedua sebagai salah satu faktor yang diamati, sehingga waktu memulai pembelajaran menjadi bagian dari gambaran pengalaman berbahasa yang lebih kompleks.

Dalam praktiknya, penggunaan bahasa dapat hadir dalam bentuk yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: berkomunikasi dengan keluarga, memahami materi belajar, bekerja dengan rekan dari latar berbeda, membaca, atau mengikuti percakapan dalam komunitas. Kemampuan tersebut dapat berkembang perlahan melalui pemakaian yang konsisten.

Christina Dalla, profesor dari Medical School of the National and Kapodistrian University of Athens yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menilai pembelajaran bahasa lain membawa manfaat sosial, budaya, dan berkaitan dengan kesehatan otak. Pandangan itu menempatkan bahasa sebagai keterampilan yang berdampak lebih luas daripada sekadar alat untuk menerjemahkan kata.

Arah Penelitian Berikutnya

Tim peneliti masih ingin menelaah apakah kombinasi bahasa tertentu dapat menimbulkan pengaruh yang berbeda terhadap aktivitas otak. Pertanyaan lain yang akan dikaji ialah kaitan kemampuan berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain dengan fungsi otak.

Kemampuan berganti bahasa kerap terjadi secara alami pada penutur multibahasa, terutama ketika konteks percakapan, lawan bicara, atau kebutuhan komunikasi berubah. Penelitian lanjutan dapat membantu memperjelas bagian mana dari pengalaman tersebut yang paling berkaitan dengan pola aktivitas otak.

Secara keseluruhan, hasil riset ini memperkuat perhatian ilmiah terhadap hubungan antara kemampuan multibahasa dan kesehatan otak sepanjang kehidupan. Meski tidak menjadi jaminan tunggal untuk menjaga fungsi otak, pengalaman memakai lebih dari satu bahasa tampak sebagai salah satu unsur menarik dalam cara manusia terus melatih kemampuan berpikir dan berinteraksi.

Frequently Asked Questions

What is Studi?

Studi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Studi matter?

Studi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *