Skip to content
Yellow Desk
September 17, 2026
Bursa

IHSG menguat seiring kenaikan bunga The Fed sudah di “priced in” pasar

Jennifer Miller - kabarsatunusa.com 5 mins read

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis dengan penguatan, ketika pelaku pasar telah lebih dulu menyesuaikan ekspektasi terhadap

IHSG menguat seiring kenaikan bunga The Fed sudah di “priced in” pasar

IHSG Dibuka Menguat Saat Kenaikan Suku Bunga The Fed Telah Diantisipasi Pasar

Kabarsatunusa.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis dengan penguatan, ketika pelaku pasar telah lebih dulu menyesuaikan ekspektasi terhadap keputusan bank sentral Amerika Serikat menaikkan suku bunga acuannya. Pada pembukaan Bursa Efek Indonesia, IHSG bertambah 18,18 poin atau 0,28 persen ke level 6.455,03.

Pergerakan positif juga terjadi pada Indeks LQ45 yang berisi 45 saham unggulan. Indeks tersebut naik 2,97 poin atau 0,46 persen dan berada di posisi 649,93. Penguatan awal ini menunjukkan bahwa keputusan The Fed, yang telah lama menjadi perhatian investor global, tidak sepenuhnya mengejutkan pasar.

Area teknikal IHSG menjadi perhatian

Pasar tetap perlu mencermati sejumlah level penting karena ruang koreksi masih terbuka apabila indeks kehilangan area penopangnya. IHSG dipandang perlu mempertahankan pergerakan di atas rentang 6.430 hingga 6.377 agar tekanan jual tidak semakin meluas.

“Apabila IHSG gagal bertahan di atas 6.430-6.377, tekanan koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.290. Sebaliknya, apabila terjadi rebound, IHSG perlu kembali menembus 6.451–6.516, dilanjutkan 6.537–6.552 sebagai resistance terdekat sebelum menguji area 6.723,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata dalam kajiannya di Jakarta, Kamis.

Level-level tersebut menjadi rujukan karena menggambarkan batas dukungan dan hambatan teknikal yang dapat memengaruhi arah transaksi jangka pendek. Jika indeks mampu bertahan dan melampaui zona resistance, ruang penguatan dapat kembali terbuka. Sebaliknya, pelemahan di bawah area support berpotensi mendorong investor lebih berhati-hati.

Kebijakan The Fed dan risiko pengetatan

Bank sentral AS resmi menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75–4,00 persen, dari kisaran sebelumnya 3,50–3,75 persen. Keputusan itu sejalan dengan perkiraan pasar, sehingga dampak langsungnya terhadap sentimen tidak sebesar apabila terjadi keputusan di luar ekspektasi.

Dalam proyeksi ekonomi terbaru, median suku bunga The Fed diperkirakan mencapai sekitar 4,1 persen pada akhir 2026. Sedikitnya 12 anggota Federal Open Market Committee atau FOMC masih melihat peluang satu kali tambahan kenaikan bunga pada tahun ini. Arah kebijakan tersebut menandakan bahwa perhatian terhadap inflasi belum surut.

Ketua The Fed Kevin Warsh kembali menegaskan inflasi sebagai fokus utama. Ia juga menekankan penggunaan pendekatan berbasis data ketimbang mengandalkan forward guidance. Bagi pasar keuangan, sikap tersebut berarti setiap data ekonomi utama AS dapat kembali memengaruhi harapan terhadap kebijakan moneter berikutnya.

“Sentimen pasar cenderung negatif karena investor mulai memperhitungkan kemungkinan berlanjutnya pengetatan moneter AS,” ujar Liza.

Kenaikan bunga di AS biasanya diperhatikan investor karena dapat memengaruhi arus dana, nilai tukar, dan selera terhadap aset berisiko. Namun, fakta bahwa kebijakan kali ini telah diperhitungkan sebelumnya membantu meredam reaksi awal di pasar saham domestik.

Harga minyak melemah setelah kekhawatiran pasokan mereda

Fokus global lainnya tetap tertuju pada Timur Tengah. Risiko geopolitik di kawasan tersebut berkaitan dengan kemungkinan gangguan terhadap pasokan serta jalur distribusi minyak. East-West Pipeline Arab Saudi sebelumnya mengalami kerusakan akibat serangan drone oleh kelompok Houthi yang didukung Iran. Konflik yang berlangsung juga menambah risiko pada jalur pelayaran Bab el-Mandeb.

Meski demikian, kekhawatiran pasokan mulai berkurang setelah Arab Saudi menawarkan tambahan volume minyak kepada kilang-kilang di Asia dan berupaya memulihkan kemampuan pipelinenya secara bertahap.

“Namun, kekhawatiran pasokan mulai mereda setelah Arab Saudi dilaporkan menawarkan tambahan volume minyak kepada kilang Asia dan berupaya memulihkan kapasitas pipelinenya secara bertahap,” ujar Liza.

Meredanya kecemasan tersebut tercermin pada koreksi harga energi. Minyak Brent turun 3,02 persen menjadi sekitar 105,46 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate atau WTI merosot 3,71 persen ke kisaran 102 dolar AS per barel. Perubahan harga minyak penting bagi pasar karena energi merupakan salah satu komponen yang dapat memengaruhi tekanan inflasi dan biaya produksi.

Sentimen domestik: INA dan investasi Indonesia-China

Dari dalam negeri, Fitch mempertahankan peringkat Indonesia Investment Authority atau INA pada BBB dengan negative outlook. Peringkat tersebut setara dengan sovereign Indonesia. Untuk skala nasional, INA memperoleh rating AAA (idn) dengan Stable Outlook.

Dukungan pemerintah terhadap INA dinilai “Virtually Certain” dengan Support Score 45/60. Penilaian itu menggambarkan kuatnya keterhubungan INA dengan pemerintah, baik dari sisi operasional maupun keuangan. Prospek negatif mengikuti outlook sovereign Indonesia, sedangkan peringkat nasional tetap stabil.

Perkembangan investasi juga datang dari penguatan kerja sama Indonesia dan China melalui Two Countries Twin Parks atau TCTP. Kolaborasi itu menitikberatkan pembangunan kawasan industri, pengintegrasian rantai pasok, alih teknologi, serta peningkatan nilai tambah.

Nota kesepahaman baru mencatat komitmen sekitar 19,4 miliar Renminbi atau setara Rp51 triliun. Dengan tambahan tersebut, total komitmen TCTP mencapai kurang lebih Rp88,1 triliun. Pemerintah akan mendorong percepatan pelaksanaan dan realisasi investasi, terutama untuk proyek kawasan industri strategis di Indonesia.

Pasar global bergerak beragam

Bursa Eropa menutup perdagangan Rabu (16/09) di zona hijau. Euro Stoxx 50 menguat 0,57 persen, FTSE 100 Inggris naik 0,28 persen, DAX Jerman bertambah 0,53 persen, dan CAC 40 Prancis meningkat 0,62 persen.

Berbeda dengan Eropa, Wall Street ditutup melemah pada hari yang sama. Indeks S&P 500 turun 0,45 persen ke 7.551,81, Nasdaq Composite melemah tipis 0,01 persen ke 25.978,43, sementara Dow Jones Industrial Average terkoreksi 1,21 persen ke 51.461,90.

Di Asia pada perdagangan pagi, Nikkei naik 0,12 persen ke 63.001,00 dan Kospi menguat 0,07 persen ke 6.722,46. Straits Times juga bertambah 0,08 persen menjadi 5.639,98. Di sisi lain, Shanghai turun 0,40 persen ke 3.875,25, sedangkan Hang Seng melemah 1,21 persen ke 24.415,24.

Gabungan sentimen tersebut membuat arah IHSG tetap bergantung pada keseimbangan antara faktor teknikal, kebijakan moneter AS, perkembangan geopolitik, harga komoditas, dan prospek investasi domestik. Penguatan pada pembukaan perdagangan memberi sinyal positif, tetapi volatilitas pasar global masih menjadi unsur penting yang perlu dicermati investor.

Frequently Asked Questions

What is IHSG menguat seiring kenaikan bunga The Fed?

IHSG menguat seiring kenaikan bunga The Fed is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does IHSG menguat seiring kenaikan bunga The Fed matter?

IHSG menguat seiring kenaikan bunga The Fed matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *