Skip to content
Yellow Desk
Oktober 4, 2026
Bisnis

Kementan perkuat pengendalian penyakit hewan usai temuan kasus antraks

Susan Anderson - kabarsatunusa.com 4 mins read

Kementerian Pertanian memperluas langkah pengendalian penyakit hewan di Kabupaten Gunungkidul setelah kasus antraks ditemukan di Kalurahan Dadapayu, Kapanewon

Kementan perkuat pengendalian penyakit hewan usai temuan kasus antraks

Pengendalian Antraks di Gunungkidul Diperluas, Vaksinasi dan Pemantauan Terus Berjalan

Kabarsatunusa.com – Kementerian Pertanian memperluas langkah pengendalian penyakit hewan di Kabupaten Gunungkidul setelah kasus antraks ditemukan di Kalurahan Dadapayu, Kapanewon Semanu, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penanganan melibatkan pemerintah kabupaten, petugas kesehatan hewan, serta Balai Besar Veteriner Wates untuk memastikan respons di lapangan berjalan terpadu.

Fokus penanganan mencakup pelacakan epidemiologi, pemeriksaan kesehatan ternak, disinfeksi kandang, pemberian pengobatan, vaksinasi, pengujian laboratorium, dan penyampaian informasi kepada warga. Rangkaian tindakan tersebut ditujukan untuk membatasi risiko penularan, menjaga kondisi ternak di sekitar lokasi, serta melindungi masyarakat dari ancaman penyakit zoonosis.

Investigasi dimulai sejak 11 September

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul melakukan penyelidikan epidemiologi pada 11 September 2026. Kegiatan ini diarahkan untuk menelusuri kejadian, mengevaluasi kondisi hewan ternak di wilayah sekitar, dan mengambil sampel yang diperlukan untuk pemeriksaan lanjutan.

Sehari setelahnya, 12 September, kandang yang terdampak menjalani disinfeksi. Petugas juga memberikan penanganan medis kepada ternak yang membutuhkan serta vitamin bagi ternak sehat di sekitar area tersebut. Upaya berikutnya dilaksanakan pada 14 September melalui pemberian antibiotik dan vitamin kepada 88 ekor kambing serta 11 ekor sapi di Kalurahan Dadapayu.

Setelah rangkaian pemberian antibiotik selesai, vaksinasi antraks dimulai pada 28 September 2026 untuk ternak yang berada di sekitar wilayah terdampak. Vaksinasi menjadi bagian penting dari pencegahan karena bertujuan meningkatkan perlindungan hewan dan menekan kemungkinan munculnya kejadian serupa.

Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Hendra Wibawa, menyampaikan bahwa respons tidak dilakukan oleh satu pihak saja. Kegiatan di lapangan menggabungkan peran pemerintah daerah dan tenaga kesehatan hewan.

“Penanganan dilakukan secara terpadu. Petugas kesehatan hewan bersama pemerintah daerah telah melakukan penyelidikan epidemiologi, pelayanan kesehatan ternak, disinfeksi, vaksinasi, serta pemeriksaan laboratorium,” kata Hendra.

Pengawasan kondisi di lapangan tetap dijalankan setelah tindakan awal dilakukan. Surveilans diperlukan untuk melihat perkembangan kesehatan ternak, mengenali perubahan yang perlu segera ditangani, serta mendukung pengambilan langkah pengendalian secara berkelanjutan.

“Surveilans juga terus dilakukan untuk mengikuti perkembangan kondisi di lapangan,” ujar Hendra.

Hasil laboratorium menguatkan diagnosis

Balai Besar Veteriner Wates turut menjalankan investigasi di lokasi dan mengambil sampel tanah serta swab. Pemeriksaan laboratorium terhadap sampel tersebut menemukan beberapa hasil positif bakteri Bacillus anthracis, penyebab antraks.

Kepala BBV Wates Nur Saptahidhayat menekankan bahwa kepastian diagnosis melalui laboratorium diperlukan agar tindakan pengendalian tidak terlambat dan dapat diarahkan secara tepat. Hasil pengujian juga mendukung koordinasi berbagai pihak dalam penanganan penyakit yang dapat berkaitan dengan kesehatan hewan dan manusia.

“Sekaligus menjadi dasar bagi koordinasi lintas sektor dalam pengendalian penyakit zoonosis ,” ujar Saptahidhayat.

Penyakit zoonosis membutuhkan keterhubungan antara hasil laboratorium, penyelidikan epidemiologi, tindakan kesehatan hewan, dan koordinasi dengan sektor kesehatan manusia. Karena itu, penanganan tidak berhenti pada pemeriksaan ternak di titik temuan, tetapi juga mencakup pemantauan lingkungan dan pengawasan di tempat lain yang berkaitan dengan pergerakan maupun kesehatan hewan.

Langkah lanjutan mencakup pemeriksaan kesehatan ternak di pasar serta evaluasi pelaksanaan dekontaminasi dan disinfeksi. BBV Wates juga dijadwalkan kembali mengambil sampel sesuai tahapan yang telah ditetapkan untuk menilai kondisi lingkungan setelah penanganan dilakukan.

Warga diminta tidak mengolah ternak sakit atau mati mendadak

Kementerian Pertanian mengingatkan warga agar tidak menyembelih, mengolah, membagikan, maupun mengonsumsi ternak yang sedang sakit atau mati secara mendadak. Tindakan tersebut penting untuk mengurangi risiko paparan dan membantu petugas melakukan pemeriksaan sesuai prosedur kesehatan hewan.

“Apabila ada ternak yang sakit atau mati mendadak, sebaiknya tidak disembelih atau dikonsumsi. Segera laporkan kepada petugas kesehatan hewan agar dapat diperiksa dan ditangani sesuai prosedur,” ujar Hendra.

Pelaporan dini memberi petugas kesempatan untuk memeriksa ternak, mengumpulkan informasi, dan menentukan langkah yang sesuai sebelum risiko meluas. Keterbukaan warga dalam menyampaikan informasi juga membantu proses pengendalian karena kondisi lapangan dapat berubah dan memerlukan tindak lanjut cepat.

Warga diimbau mengikuti arahan petugas kesehatan hewan dan melakukan konsultasi terlebih dahulu apabila berencana melakukan lalu lintas ternak dari wilayah yang masih berada dalam pemantauan. Pengawasan, pengujian laboratorium, vaksinasi, serta edukasi kepada masyarakat akan diteruskan bersama pemerintah daerah.

Penanganan di Gunungkidul memperlihatkan pentingnya respons yang terhubung dari kandang hingga laboratorium. Pengendalian penyakit hewan tidak hanya bergantung pada pengobatan atau vaksinasi, melainkan juga pada disinfeksi, pemantauan lingkungan, pelaporan cepat, dan komunikasi yang jelas kepada masyarakat. Dengan langkah tersebut, kesehatan ternak dapat dijaga sekaligus risiko terhadap masyarakat dapat ditekan.

Frequently Asked Questions

What is Kementan perkuat pengendalian penyakit hewan usai?

Kementan perkuat pengendalian penyakit hewan usai is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Kementan perkuat pengendalian penyakit hewan usai matter?

Kementan perkuat pengendalian penyakit hewan usai matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *