Pelatihan rotan dan kulit dorong UMK Barito Utara menghasilkan produk modern
Kabarsatunusa.com – Pemerintah Kabupaten Barito Utara, Kalimantan Tengah, memperkuat kemampuan pelaku usaha mikro dan kecil melalui pelatihan lanjutan modifikasi kulit serta anyaman rotan. Kegiatan ini diarahkan untuk membantu perajin menciptakan produk yang lebih menarik, relevan dengan kebutuhan konsumen, dan memiliki nilai ekonomi lebih besar.
Pelatihan tersebut melibatkan 25 pelaku UMK dari sejumlah desa di Kecamatan Teweh Timur dan Kecamatan Gunung Purei, dua wilayah yang memiliki sentra kerajinan rotan. Peserta tidak hanya memperoleh penjelasan mengenai pengembangan desain, tetapi juga mengikuti praktik bersama praktisi anyaman rotan dari Palangka Raya.
Kepala Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi dan UKM Barito Utara, Agus Siswadi, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi sarana untuk memperluas kemampuan para pengrajin dalam mengolah bahan lokal.
“Melalui pelatihan ini kita ingin meningkatkan keterampilan, wawasan, kreativitas dan inovasi para pelaku usaha dalam mengembangkan kerajinan berbahan dasar rotan dan kulit,” kata Agus Siswadi di Muara Teweh, Kamis.
Kerajinan lokal perlu menyesuaikan selera pasar
Pengembangan kerajinan rotan tidak berhenti pada bentuk-bentuk tradisional. Rotan dapat dipadukan dengan kulit untuk menghasilkan produk dengan tampilan yang lebih kontemporer, tanpa meninggalkan karakter bahan alami yang menjadi kekuatannya.
Bagi pelaku UMK, kemampuan mengubah desain dan fungsi produk menjadi penting karena persaingan usaha terus bergerak. Produk yang baik tidak cukup hanya rapi dibuat, tetapi juga perlu memiliki ciri khas, mutu yang terjaga, serta tampilan yang mampu menarik perhatian calon pembeli.
Dalam pelatihan ini, perpaduan rotan dan kulit diperkenalkan sebagai salah satu peluang pengembangan. Kombinasi kedua material tersebut dapat diterapkan pada tas, dompet, aksesori, maupun beragam jenis barang kerajinan lain. Dengan pilihan desain yang tepat, produk berbahan lokal berpeluang menawarkan kesan fungsional sekaligus bernilai estetis.
“Potensi itulah yang coba dikembangkan pemerintah daerah melalui pelatihan lanjutan modifikasi kulit dan anyaman rotan tahun ini diikuti 25 pelaku usaha mikro dan kecil,” kata Agus.
Target pelatihan bukan sekadar membuat peserta mampu memproduksi barang, melainkan juga mendorong mereka memahami kebutuhan pasar. Pengetahuan tentang bentuk, fungsi, kualitas, dan inovasi desain dapat membantu pengrajin menentukan arah pengembangan produknya.
Peserta berasal dari dua sentra rotan
Dari Kecamatan Teweh Timur, peserta berasal dari Desa Benangin I, Benangin II, dan Benangin III, dengan masing-masing satu orang. Desa Liju serta Desa Sei Liju juga mengirimkan masing-masing seorang peserta.
Sementara itu, Kecamatan Gunung Purei diwakili oleh satu peserta dari Desa Lampeong I, tiga orang dari Muara Mea, tiga orang dari Payang, dua orang dari Berong, dua orang dari Tambaba, serta tujuh orang dari Baok.
Komposisi peserta tersebut memperlihatkan keterlibatan perajin dari berbagai desa yang selama ini menjadi bagian dari lingkungan usaha kerajinan rotan di Barito Utara. Pelatihan bersama dapat membuka ruang pertukaran pengalaman antarpelaku usaha, terutama dalam melihat variasi model, teknik pengerjaan, dan pemanfaatan bahan.
Para peserta memperoleh materi sekaligus pendampingan praktik dari pengrajin anyaman rotan asal Palangka Raya yang telah berpengalaman mengembangkan produk berbahan rotan. Pendekatan praktik penting agar gagasan desain dapat langsung diterapkan dalam proses pembuatan produk.
Produktivitas dan pendapatan menjadi sasaran
Agus menilai modifikasi produk diperlukan agar UMK mampu bertahan dan berkembang di tengah perubahan pasar. Kerajinan yang memiliki identitas visual, kualitas baik, serta nilai guna yang jelas akan lebih mudah diposisikan sebagai produk pilihan konsumen.
“Dengan adanya keterampilan ini, kita berharap peserta mampu menghasilkan produk yang berkualitas, menarik dan memiliki nilai jual. Pada akhirnya dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan para pelaku usaha,” jelasnya saat mengunjungi peserta pelatihan di hari kedua didampingi Ketua DWP Dinas Nakertranskop UKM Barito Utara.
Nilai tambah dalam kerajinan dapat lahir dari berbagai unsur, mulai dari pemilihan bahan, ketelitian anyaman, perpaduan warna, bentuk produk, hingga penyelesaian akhir. Pelatihan modifikasi kulit dan rotan memberi peserta kesempatan untuk melihat bahwa bahan yang sama dapat diolah menjadi produk dengan karakter dan kegunaan yang berbeda.
Upaya ini juga berkaitan dengan program 11.12 GASPOL Bupati dan Wakil Bupati Barito Utara. Dalam konteks tersebut, penguatan UMK dipandang sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat, perluasan pengembangan usaha, serta peningkatan produktivitas berbasis potensi daerah.
“Melalui program ini pemerintah daerah berupaya mendorong pelaku usaha agar semakin mandiri, kreatif dan mampu memanfaatkan potensi lokal menjadi produk ekonomi yang bernilai,” katanya.
Bagi perajin, pemanfaatan rotan dan kulit dapat menjadi jalan untuk memperluas pilihan produk tanpa mengabaikan keterampilan yang telah dimiliki. Dengan kreativitas yang terus diasah, kerajinan lokal dapat berkembang menjadi barang yang tidak hanya mencerminkan keahlian tangan, tetapi juga menjawab kebutuhan penggunaan sehari-hari dan selera desain yang berubah.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Pemkab Barito Utara minta perajin rotan?
Pemkab Barito Utara minta perajin rotan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Pemkab Barito Utara minta perajin rotan matter?
Pemkab Barito Utara minta perajin rotan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
