KabarSatuNusa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Komdigi rilis 22 platform berisiko tinggi bagi anak, ini daftarnya

Published September 16, 2026 · Updated September 16, 2026 · By Linda Gonzalez - kabarsatunusa.com

Foto : Linda Gonzalez - kabarsatunusa.com

Komdigi Petakan 22 Layanan Digital dengan Risiko Tinggi bagi Anak

Kabarsatunusa.com – Aktivitas anak di internet kini menjadi perhatian penting pemerintah, terutama ketika media sosial, permainan, layanan video, percakapan digital, dan belanja daring semakin mudah diakses dari berbagai perangkat. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah melakukan pemetaan terhadap produk, fitur, dan layanan digital yang dapat menimbulkan risiko bagi pengguna anak melalui penerapan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak, atau PP Tunas.

Hingga 6 September 2026, tercatat 252 produk, fitur, dan layanan digital dari 94 Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) telah menuntaskan proses penilaian mandiri. Dari keseluruhan proses itu, Komdigi sudah memverifikasi 60 produk, fitur, dan layanan. Sebanyak 38 di antaranya masuk kelompok risiko rendah, sedangkan 22 lainnya diklasifikasikan memiliki risiko tinggi bagi anak.

Arti Kategori Risiko Tinggi

Penetapan risiko tinggi menunjukkan bahwa suatu layanan dinilai belum aman untuk diakses anak. Dalam kategori ini, layanan tidak boleh memberikan akses kepada akun milik pengguna berusia di bawah 16 tahun, selaras dengan ketentuan perlindungan anak yang berlaku.

Setiap layanan digital tidak menghadapi tingkat risiko yang sama. Karena itu, PP Tunas menggunakan pendekatan klasifikasi, bukan larangan menyeluruh terhadap internet. Makin besar potensi risiko sebuah produk atau fitur, makin kuat pula langkah perlindungan yang perlu dijalankan oleh penyelenggaranya.

Pemetaan tersebut mencakup beragam jenis layanan digital. Ruang lingkupnya meliputi media sosial, sarana komunikasi daring, perdagangan elektronik, platform streaming, hingga permainan digital. Karakter tiap layanan dapat berbeda, baik dari sisi interaksi antarpengguna, jenis konten, maupun fitur yang tersedia. Kondisi itulah yang membuat penerapan perlindungan anak tidak dapat diseragamkan untuk seluruh platform.

Verifikasi Dilakukan dalam Tahap Bertahap

Dari 60 produk, fitur, dan layanan yang telah diverifikasi, 22 telah masuk profil risiko tinggi. Sebagian layanan sudah memperoleh penetapan melalui Keputusan Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital. Sementara itu, sejumlah layanan lain masih berada dalam tahapan penetapan setelah hasil verifikasinya diperoleh.

Proses ini menjadi bagian dari evaluasi selama enam bulan sejak PP Tunas diterapkan. Penilaian mandiri yang dilakukan PSE berfungsi untuk mengidentifikasi tingkat risiko layanan mereka sendiri, lalu hasilnya diperiksa melalui mekanisme verifikasi oleh Komdigi. Dengan demikian, klasifikasi tidak semata-mata bergantung pada jenis aplikasi atau popularitas suatu platform, melainkan pada penilaian atas produk, fitur, dan layanan yang digunakan.

Pengelompokan risiko juga dapat dipahami sebagai upaya agar tanggung jawab perlindungan anak berada pada penyedia layanan digital. PSE perlu memastikan sistem mereka menerapkan langkah yang sesuai dengan profil risiko yang telah ditetapkan. Untuk layanan berisiko tinggi, pembatasan akses akun anak di bawah usia 16 tahun menjadi salah satu konsekuensi utama.

Batas Waktu Penilaian Mandiri hingga Akhir 2026

Pemerintah masih membuka kesempatan bagi PSE yang belum menyelesaikan penilaian mandiri. Tenggat pemenuhan kewajiban tersebut diberikan sampai 31 Desember 2026. Masa ini memberi ruang bagi penyelenggara sistem elektronik untuk melengkapi proses yang diperlukan serta menyesuaikan layanan mereka dengan ketentuan PP Tunas.

Apabila penilaian mandiri tidak diselesaikan sampai batas waktu tersebut, pemerintah memiliki kewenangan untuk menetapkan profil risiko layanan terkait. Ketentuan ini menegaskan bahwa proses klasifikasi bukan sekadar administrasi, melainkan bagian dari tata kelola perlindungan anak di ruang digital.

Bagi orang tua dan pendamping, pemetaan risiko dapat menjadi pengingat bahwa keamanan anak di internet tidak hanya ditentukan oleh durasi penggunaan gawai. Jenis layanan yang dibuka, fitur percakapan yang digunakan, bentuk interaksi dengan pengguna lain, serta mekanisme akun juga menjadi bagian dari perhatian. Pendampingan tetap relevan karena pengalaman digital anak dapat berbeda pada setiap platform dan kelompok usia.

Internet Tidak Dilarang untuk Anak

Kebijakan PP Tunas tidak berarti seluruh aktivitas internet bagi anak dihentikan atau dilarang. Pemerintah menerapkan pengelompokan yang mempertimbangkan tingkat risiko sebuah layanan serta usia pengguna. Dengan pendekatan ini, layanan dengan profil berbeda dapat memperoleh perlakuan yang berbeda pula.

Dalam praktiknya, pendekatan berbasis risiko dimaksudkan untuk membedakan ruang digital yang dapat digunakan anak dengan pengamanan tertentu dan layanan yang tidak layak menyediakan akses akun bagi pengguna di bawah 16 tahun. Fokusnya berada pada perlindungan yang proporsional, bukan pembatasan yang sama untuk semua bentuk aktivitas daring.

Ke depan, hasil penilaian dan verifikasi akan menjadi elemen penting dalam penerapan tata kelola digital yang lebih ramah anak. PSE, keluarga, dan masyarakat sama-sama memiliki peran dalam membangun penggunaan internet yang lebih aman. Di sisi pemerintah, pemetaan ini menjadi dasar pengawasan. Di sisi penyedia layanan, klasifikasi risiko menjadi tuntutan untuk memperkuat perlindungan pengguna anak. Sementara bagi keluarga, informasi tersebut dapat membantu memahami bahwa tidak setiap platform memiliki tingkat keamanan yang setara bagi anak.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Komdigi rilis 22 platform berisiko tinggi?

Komdigi rilis 22 platform berisiko tinggi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Komdigi rilis 22 platform berisiko tinggi matter?

Komdigi rilis 22 platform berisiko tinggi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.