KabarSatuNusa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Global Low-Carbon Industry Forum 2026 Bahas Solusi guna Menutup Kesenjangan Akses Listrik

Published September 19, 2026 · Updated September 19, 2026 · By Susan Anderson - kabarsatunusa.com

Foto : Susan Anderson - kabarsatunusa.com

Forum Industri Rendah Karbon Bahas Akses Listrik Global

Kabarsatunusa.com – Global Low Carbon Industry Forum 2026 di Shenzhen, Tiongkok, pada 15 September 2026, membahas langkah untuk memperluas akses listrik melalui pemanfaatan energi surya, penyimpanan energi, kecerdasan buatan, dan teknologi jaringan modern. Forum ini mengusung tema “Making the Most of Every Ray, Powering the Unpowered”.

Acara tersebut diselenggarakan oleh Global Solar Council, China Energy Research Society, World Alliance for Low Carbon Cities, Tsinghua Shenzhen International Graduate School, serta Huawei Digital Power. Peserta berasal dari kalangan industri, akademisi, operator kelistrikan, dan perusahaan yang menaruh perhatian pada transisi energi.

Pembahasan dalam Global Low Carbon Industry Forum 2026 menekankan bahwa perubahan sistem energi tidak dapat diterapkan dengan satu pendekatan yang sama untuk seluruh negara. Setiap wilayah menghadapi kondisi berbeda, mulai dari kebutuhan menjaga stabilitas jaringan hingga tantangan menghadirkan listrik bagi masyarakat yang belum terlayani.

Teknologi jaringan dan AI untuk energi yang andal

Hou Jinlong, Director of the Board Huawei dan President Huawei Digital Power, menyampaikan bahwa dekarbonisasi, elektrifikasi, digitalisasi, dan teknologi cerdas menjadi arah penting dalam perkembangan energi global. Namun, solusi yang dibutuhkan harus disesuaikan dengan kondisi jaringan, biaya, serta tingkat ketersediaan infrastruktur di masing-masing wilayah.

Daerah dengan penetrasi energi terbarukan tinggi perlu memperkuat keamanan dan kestabilan sistem listrik. Di negara berkembang, penyediaan pasokan listrik yang andal harus berjalan seiring dengan pengendalian biaya. Sementara itu, kawasan dengan infrastruktur terbatas memerlukan model pengembangan yang mampu memperluas akses energi secara inklusif.

“grid forming everywhere and AI for everywhere”

Gagasan tersebut menjadi bagian dari komitmen Huawei Digital Power untuk membangun ekosistem energi digital bersama para mitra. Integrasi teknologi grid-forming dan AI dipandang dapat mendukung penyediaan energi bersih yang lebih terjangkau, aman, berkelanjutan, serta stabil.

Grid-forming memungkinkan perangkat energi, seperti sistem penyimpanan dan pembangkit berbasis inverter, membantu membentuk karakteristik dasar jaringan listrik. Kemampuan ini penting ketika sistem kelistrikan semakin banyak menggunakan sumber energi terbarukan dan tidak hanya bergantung pada pembangkit berbahan bakar fosil.

Energi surya dan penyimpanan sebagai fondasi transisi

Perwakilan Global Solar Council menilai energi surya dan penyimpanan energi dapat menjadi fondasi menuju sistem yang lebih mandiri berbasis sumber daya lokal. Peralihan dari ketergantungan pada bahan bakar fosil juga dinilai relevan di tengah ketidakpastian global.

Kombinasi pembangkit listrik tenaga surya fotovoltaik dan penyimpanan energi dapat membantu pasokan tetap tersedia ketika produksi tenaga surya berubah atau kebutuhan listrik meningkat. Sistem tersebut berpotensi membuat jaringan lebih tangguh sekaligus mendukung pemanfaatan energi bersih secara lebih luas.

Bagi wilayah yang masih menghadapi kesenjangan akses listrik, penggunaan sumber energi lokal dapat menawarkan pilihan pengembangan yang lebih fleksibel. Tantangannya tidak berhenti pada pembangunan pembangkit, tetapi juga mencakup pengelolaan biaya, distribusi yang stabil, dan kesinambungan layanan bagi rumah tangga maupun aktivitas ekonomi.

Pusat data AI perlu mendukung jaringan listrik

Wang Xiongfei, IEEE Fellow dan Xinghua Chair Professor di Tsinghua University, menyoroti pertumbuhan pusat data AI berskala gigawatt. Kebutuhan komputasi yang terus meningkat membuat pusat data menjadi pengguna listrik besar, sehingga perannya dalam sistem tenaga perlu dirancang secara lebih aktif.

Menurutnya, pusat data di masa depan tidak cukup hanya mengonsumsi energi. Infrastruktur tersebut perlu mampu memahami kondisi jaringan, memberikan dukungan secara proaktif, dan mempertahankan kemampuan operasi tertentu ketika pasokan listrik mengalami gangguan. Kemampuan bertahan saat gangguan ini dikenal sebagai fault ride-through.

Ia juga mengusulkan konsep chip-to-grid, yaitu rancangan kolaboratif dari cip hingga jaringan listrik. Pendekatan ini mencakup pemanfaatan penyimpanan energi grid-forming, pengoptimalan pengendalian UPS, dan coordinated workload shaping untuk membantu pusat data berinteraksi lebih baik dengan sistem kelistrikan.

Melalui Global Low Carbon Industry Forum 2026, para peserta menyoroti hubungan erat antara perluasan akses listrik, keandalan jaringan, perkembangan pusat data, dan percepatan energi terbarukan. Teknologi digital dinilai dapat menjadi bagian penting dari upaya menghadirkan energi yang lebih merata dan berkelanjutan.

FAQ Global Low Carbon Industry Forum 2026

Apa fokus utama Global Low Carbon Industry Forum 2026?

Forum ini membahas pemanfaatan energi surya, penyimpanan energi, grid-forming, dan AI untuk mendukung transisi energi serta memperluas akses listrik di berbagai wilayah.

Mengapa teknologi grid-forming penting?

Teknologi grid-forming membantu menjaga karakteristik dasar jaringan listrik, termasuk kestabilan tegangan dan frekuensi, terutama ketika penggunaan energi terbarukan meningkat.

Bagaimana pusat data AI dapat membantu sistem listrik?

Pusat data dapat dirancang agar tidak hanya menjadi pengguna listrik besar, tetapi juga mampu merespons kondisi jaringan melalui penyimpanan energi, pengelolaan UPS, dan pengaturan beban kerja secara terkoordinasi.

Related Reading