KabarSatuNusa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pangkogabwilhan III : Dua pimpinan OPM tewas dalam kontak senjata

Published Oktober 4, 2026 · Updated Oktober 4, 2026 · By James Thomas - kabarsatunusa.com

Foto : James Thomas - kabarsatunusa.com

Dua Pimpinan TPNPB-OPM Tewas dalam Kontak Senjata di Aifat

Kabarsatunusa.com – Dua tokoh TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya dilaporkan meninggal dalam kontak senjata dengan pasukan TNI di kawasan hutan bagian utara Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Peristiwa itu berlangsung pada Sabtu malam, 3 Oktober.

Kedua orang yang tewas ialah Arso Aisnak, Komandan Komando Wilayah Pertahanan II TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya, serta Yohanes KY yang menjabat Komandan Batalyon TPNPB-OPM Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya.

Panglima Gabungan Wilayah Pertahanan III Letnan Jenderal TNI Lucky Avianto menyampaikan bahwa operasi tersebut melibatkan Denkul IV Satgas Rajawali V Koops Habema dan Satgas Yonif Marinir. Kekuatan itu diperkuat Yonif 764/I B dan berada dalam kendali Kogabwilhan III.

Pergerakan Kelompok Terdeteksi di Dekat Permukiman

Keberadaan kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya yang dipimpin Manfret Fatem diketahui setelah pemantauan BIN mendeteksi pergerakan mereka ke arah wilayah permukiman warga di Distrik Aifat. Pasukan kemudian bergerak ke area hutan di bagian utara distrik tersebut.

Lucky menjelaskan bahwa sebelum baku tembak terjadi, personel TNI telah berupaya mengajak kelompok itu menyerah dan meletakkan senjata. Ajakan tersebut, katanya, tidak diterima dan justru disambut dengan tembakan peluru tajam ke arah pasukan.

“Keberadaan Kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya Pimpinan Manfret Fatem, diketahui dari hasil pantauan BIN, yang menemukan pergerakan mereka saat hendak masuk ke dalam pemukiman warga Distrik Aifat, Kabupaten Maybrat,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa tembakan pertama disebut berasal dari Manfret Fatem, kemudian diikuti anggota kelompoknya. Kontak senjata pun berlangsung di kawasan berhutan yang menjadi lokasi operasi pasukan gabungan.

“Seluruh pasukan kami selamat, sementara duo pentolan yang menjadi kaki tangan Manfret Fatem, yakni Komandan Komando Wilayah Pertahanan II Kodap IV Sorong Raya Arso Aisnak dan Komandan Batalyon Karef Hamit Kodap IV Sorong Raya Yohanes KY tewas dalam kontak senjata tersebut,” ujarnya.

Manfret Fatem dan Anggota Lain Melarikan Diri

Setelah Arso Aisnak dan Yohanes KY tewas, Manfret Fatem bersama anggota kelompok yang tersisa disebut melarikan diri lebih jauh ke dalam hutan. Pasukan masih melakukan pengejaran terhadap kelompok TPNPB-OPM Kodap IV Sorong Raya tersebut.

Lucky menyebut Arso Aisnak dan Yohanes KY sebagai dua figur yang selama ini dikenal dalam struktur kelompok itu. Ia juga mengaitkan keduanya dengan berbagai tindakan kekerasan yang dituduhkan kepada kelompok bersenjata tersebut di wilayah Papua Barat Daya.

Di lokasi kejadian, aparat menyatakan menemukan sejumlah barang yang diduga milik kelompok tersebut. Barang-barang itu mencakup satu revolver beserta amunisinya, puluhan amunisi senapan mesin otomatis, beberapa senjata tajam, perangkat komunikasi, serta dua lembar bendera Bintang Kejora.

“Di lokasi kami temukan sejumlah barang milik OPM, antar lain satu pucuk senjata api jenis revolver beserta pelurunya, puluhan amunisi senapan mesin otomatis, beberapa bilah senjata tajam, alat komunikasi dan dua lembar bendera bintang kejora,” ujarnya.

Penegasan Tindakan Tegas dan Terukur

Operasi lanjutan diarahkan untuk menangkap Manfret Fatem dan anggota kelompok yang masih berada di sekitar wilayah hutan. Lucky menyatakan tindakan itu dilakukan guna mencegah berulangnya tindak pidana yang disebut meliputi pemerkosaan, penganiayaan, perampokan, dan pembunuhan di Tanah Papua, terutama di Sorong dan Papua Barat Daya.

Ia mengingatkan anggota TPNPB-OPM bahwa TNI-Polri serta aparat penegak hukum akan terus memburu pelaku kejahatan kemanusiaan. Pernyataan tersebut turut menegaskan sikap aparat dalam menghadapi kelompok bersenjata di wilayah Papua.

“Saya ingatkan kembali kepada seluruh Anggota TPNPB-OPM, dimanapun kalian berada. TNI-Polri bersama seluruh aparat penegak hukum akan terus mengejar dan menangkap seluruh pelaku kejahatan kemanusiaan di Tanah Papua, baik dalam keadaan hidup atau mati,” ujarnya.

Lucky menambahkan, seluruh personel TNI di bawah kendali Kogabwilhan III tetap diwajibkan bertindak dalam koridor undang-undang serta ketentuan yang berlaku. Rules of Engagement atau ROE disebut terus menjadi pedoman dalam setiap tindakan di lapangan agar profesionalitas, hukum, dan hak asasi manusia tetap dijunjung.

Dalam situasi yang dinilai mendesak, Satgas TNI disebut akan mengambil tindakan tegas secara terukur. Prinsip keselamatan rakyat sebagai hukum tertinggi, atau salus populi suprema lex esto, disebut menjadi salah satu pedoman dalam pelaksanaan operasi keamanan di wilayah tersebut.

Kontak senjata di Aifat kembali menyoroti tantangan keamanan di daerah pegunungan dan kawasan hutan Papua Barat Daya. Wilayah seperti ini memiliki akses yang tidak mudah, sementara kedekatannya dengan permukiman warga membuat perlindungan masyarakat menjadi bagian penting dalam setiap operasi keamanan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pangkogabwilhan III?

Pangkogabwilhan III is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pangkogabwilhan III matter?

Pangkogabwilhan III matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.