KabarSatuNusa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Avenged Sevenfold sukses gebrak Jakarta bawa nostalgia

Published Oktober 11, 2026 · Updated Oktober 11, 2026 · By Linda Gonzalez - kabarsatunusa.com

Foto : Linda Gonzalez - kabarsatunusa.com

Avenged Sevenfold Hidupkan Malam Jakarta dengan Lagu-Lagu Penuh Kenangan

Kabarsatunusa.com – Jakarta International Stadium (JIS) dipenuhi dentuman heavy metal ketika Avenged Sevenfold tampil dalam konser “Avenged Sevenfold Live in Indonesia” pada Sabtu (10/10) malam. Band asal Amerika Serikat itu membawa perjalanan panjang katalog musiknya ke hadapan penggemar Jakarta, memadukan nomor-nomor bertenaga dengan lagu yang memiliki tempat khusus dalam kenangan Deathbat Indonesia.

Penampilan tersebut menjadi perjumpaan terbaru Avenged Sevenfold dengan penggemarnya di Tanah Air. Matt Shadows, Synyster Gates, Zacky Vengeance, Johnny Christ, dan Brooks Wackerman membangun suasana sejak awal pertunjukan melalui “Nightmare”, lagu pembuka yang langsung mengundang respons riuh dari penonton.

“Jakarta, lagu ini untuk kalian. Kami ingin kalian berdiri dan berteriak sekeras-kerasnya,” kata vokalis Matt Shadows.

Seruan itu disambut gemuruh dari berbagai sudut stadion. Energi penonton kemudian mengiringi deretan lagu populer seperti “Afterlife”, “Shepherd of Fire”, dan “Buried Alive”. Pilihan lagu tersebut memperlihatkan rentang karya Avenged Sevenfold, dari materi yang telah lama dikenal penggemar hingga lagu-lagu yang tetap menjadi bagian penting dalam penampilan panggung mereka.

Penghormatan untuk Jimmy “The Rev” Sullivan

Salah satu bagian paling emosional dalam konser hadir saat “So Far Away” dimainkan. Lagu dari album Nightmare itu dibawakan sebagai penghormatan untuk mantan drummer Avenged Sevenfold, James “The Rev” Owen Sullivan, yang telah meninggal dunia. Momen tersebut membuat pertunjukan tidak semata menjadi ajang selebrasi musik keras, melainkan juga ruang untuk mengenang sosok yang penting dalam sejarah band.

“Baiklah, sekarang, mari kita bawakan sebuah lagu, saya rasa lagu ini akan cocok untuk semua orang. Lagu ini kami persembahkan untuk sahabat kami tercinta, Jimmy ‘The Rev’ Sullivan. Lagu ini berjudul ‘So Far Away’,” tutur Matt Shadows.

“So Far Away” dikenal sebagai salah satu lagu Avenged Sevenfold yang sarat nuansa kehilangan. Kehadirannya dalam daftar penampilan memberi warna berbeda di tengah komposisi musik yang banyak diisi riff tajam, gebukan drum cepat, dan vokal penuh tenaga. Bagi penggemar yang mengikuti perjalanan band sejak lama, penghormatan ini menjadi pengingat akan ikatan emosional yang terus melekat pada karya-karya A7X.

Setlist Menyusuri Berbagai Era

Malam itu, Avenged Sevenfold juga memainkan “M.I.A.”, “Gunslinger”, “Hail to the King”, “Bat Country”, serta “Unholy Confessions”. Susunan lagu tersebut menghadirkan materi dari beberapa fase perjalanan mereka, sehingga penonton dapat menikmati karakter musik band yang berkembang dari waktu ke waktu.

“Hail to the King” membawa atmosfer anthem yang kuat, sementara “Bat Country” dan “Unholy Confessions” mengingatkan pada masa ketika nama Avenged Sevenfold semakin luas dikenal di kalangan pendengar musik rock dan metal. Di sisi lain, “M.I.A.” serta “Gunslinger” menawarkan dinamika yang memperkaya alur konser, dengan perpindahan emosi dari agresif hingga reflektif.

Nuansa nostalgia semakin menonjol ketika “A Little Piece of Heaven” dan “Dear God” masuk dalam rangkaian lagu. “Dear God”, yang dirilis melalui album Avenged Sevenfold pada 2007, menjadi salah satu nomor yang sangat akrab bagi penggemar Indonesia. Lagu itu juga kerap dikaitkan dengan masa ketika banyak pendengar menikmati musik melalui komputer di bilik-bilik warung internet atau warnet.

Kedekatan “Dear God” dengan memori keseharian pendengarnya menunjukkan bagaimana sebuah lagu dapat melampaui konteks album dan konser. Bagi sebagian Deathbat Indonesia, karya tersebut bukan hanya bagian dari diskografi band, tetapi juga pengiring masa remaja, pertemanan, serta pengalaman menemukan musik favorit pada era yang berbeda.

Efek Panggung Menambah Intensitas Pertunjukan

Selain setlist, produksi panggung turut memperkuat pengalaman konser di JIS. Kembang api beberapa kali ditembakkan dari area panggung, menambah tekanan visual pada bagian-bagian penting dalam pertunjukan. Efek tersebut berpadu dengan musik yang dibawakan secara intens oleh kelima personel.

Konser ditutup melalui “Cosmic”. Lagu tersebut mengakhiri malam yang dipenuhi sorakan, nyanyian bersama, dan perjalanan nostalgia lintas album. Setelah rangkaian penampilan selesai, Matt Shadows menyampaikan apresiasinya kepada penonton Jakarta.

“Jakarta, terima kasih banyak atas malam ini,” ujar Shadows.

Kehadiran Avenged Sevenfold di Jakarta memperpanjang riwayat hubungan band itu dengan penggemar Indonesia. Mereka pertama kali tampil di Indonesia pada 2007, lalu kembali pada 2008 dan 2015. Sebelum konser di JIS, penampilan terakhir mereka di Jakarta berlangsung pada 2024 di Stadion Madya Gelora Bung Karno.

Dengan sejarah kunjungan yang telah berlangsung selama bertahun-tahun, konser “Avenged Sevenfold Live in Indonesia” menjadi bukti bahwa karya-karya band tersebut masih memiliki daya tarik besar bagi pendengarnya di Indonesia. Dari “Nightmare” hingga “Cosmic”, malam di JIS menghadirkan lebih dari sekadar daftar lagu: sebuah pertemuan antara musik, memori, dan loyalitas penggemar yang terus bertahan.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Avenged Sevenfold sukses gebrak Jakarta bawa?

Avenged Sevenfold sukses gebrak Jakarta bawa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Avenged Sevenfold sukses gebrak Jakarta bawa matter?

Avenged Sevenfold sukses gebrak Jakarta bawa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.