Menhan tegaskan relasi RI-China di Beijing Xiangshan Forum 2026
Indonesia Tegaskan Diplomasi Bebas Aktif di Forum Keamanan Beijing
Kabarsatunusa.com – Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin menempatkan hubungan Indonesia dan China dalam kerangka kepentingan nasional serta politik luar negeri bebas aktif saat menghadiri Beijing Xiangshan Forum 2026 di Beijing, Rabu. Kehadiran Indonesia dalam forum itu menegaskan pentingnya ruang dialog pertahanan di tengah perubahan dinamika keamanan kawasan dan global.
Forum yang berlangsung pada 15–17 September 2026 tersebut mengangkat tema “Build Consensus on Stability, Advance Security Governance Together”, atau membangun kesepakatan mengenai stabilitas dan memajukan tata kelola keamanan secara bersama. Agenda ini mempertemukan ratusan perwira militer, diplomat, akademisi, serta pemangku kepentingan pertahanan dari Asia, Eropa, hingga Amerika Serikat.
“Kita ini negara yang berbasis kepada konstitusi, berbasis kepada kepentingan nasional, tetapi mempunyai suatu strategi politik luar negeri yang bebas aktif. Sehingga, kita open minded kepada semua negara sahabat,” kata Sjafrie.
Dialog sebagai bagian dari kepentingan nasional
Sjafrie menyampaikan bahwa Indonesia membuka komunikasi dengan berbagai negara sahabat selama sejalan dengan kebutuhan nasional dan harapan masyarakat. Sikap tersebut memperlihatkan posisi Indonesia yang tidak menutup diri terhadap kerja sama pertahanan, tetapi tetap berpijak pada prinsip kedaulatan dan kepentingan sendiri.
“Indonesia terbuka untuk bicara dengan negara-negara lain untuk memenuhi kepentingan nasional mereka dan untuk memenuhi harapan rakyat,” ujar Sjafrie.
Dalam konteks forum pertahanan internasional, dialog tidak hanya berkaitan dengan hubungan antarnegara. Pertemuan seperti Xiangshan Forum juga menjadi tempat bertemunya birokrat pertahanan, kalangan akademik, dan pelaku teknologi. Pertukaran pandangan di antara kelompok tersebut dapat membantu membangun pemahaman mengenai tantangan keamanan yang semakin luas, mulai dari keamanan maritim hingga bidang-bidang baru.
Sjafrie menilai penyelenggaraan forum tersebut penting untuk menjaga konektivitas di antara komunitas pertahanan dunia. Indonesia, katanya, tetap ingin memberikan kontribusi melalui kerja sama bilateral maupun multilateral yang telah dirancang.
“Kami sangat mendukung dan kami ingin terus berada di dalam koridor ini. Kontribusi kami sudah banyak. Baik yang kami lakukan bilateral maupun dilaksanakan secara multilateral, termasuk rencana latihan militer bersama yang sudah direncanakan oleh Defense Cooperation Agreement,” jelas Sjafrie.
Kerja sama Indonesia-China
Hubungan pertahanan Indonesia dan China juga sebelumnya dibahas dalam Mekanisme Dialog 2+2 yang mempertemukan menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara di Jakarta pada 21 Agustus. Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat memperkuat kerja sama di bidang penegakan hukum dan keamanan untuk menghadapi kejahatan lintas negara.
Ruang kerja sama yang dibicarakan mencakup pengejaran buronan, pemulihan aset hasil kejahatan, serta dukungan pada kerja sama internasional melawan penipuan telekomunikasi dan penipuan daring. Kedua negara juga berencana menjalankan dokumen kerja sama keamanan maritim dan menjaga keamanan serta kelancaran jalur pelayaran utama.
Di bidang militer, latihan terbaru antara TNI dan Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat China atau PLA dilaksanakan pada 12 Agustus. Kegiatan itu berbentuk passing exercise atau latihan lintas laut, sebagai bagian dari diplomasi maritim ketika KRI I Gusti Ngurah Rai-332 menjalani perjalanan pulang menuju Indonesia.
Latihan lintas laut umumnya menjadi sarana interaksi operasional terbatas antarangkatan laut yang tengah berada dalam pelayaran. Bagi Indonesia, keamanan laut memiliki arti penting karena jalur perairan merupakan bagian besar dari konektivitas nasional dan perdagangan internasional.
Seruan China mengenai tata kelola keamanan
Menteri Pertahanan China Dong Jun, yang membuka forum, menekankan bahwa tata kelola keamanan global harus dinilai dari tindakan dan hasil nyata. Ia menyatakan kesiapan militer China untuk bekerja bersama angkatan bersenjata dari berbagai negara.
“Militer China bersedia bekerja sama dengan militer dari berbagai negara untuk menerapkan Inisiatif Keamanan Global, terus memperkuat rasa saling percaya di bidang keamanan, meningkatkan koordinasi internasional demi keamanan bersama, memperkuat kemampuan bersama dalam menjaga keamanan, meningkatkan tata kelola keamanan di bidang-bidang baru, serta memperluas penyediaan barang publik di bidang keamanan,” kata Dong Jun.
Dong Jun menyebut langkah tersebut diarahkan untuk memberi kontribusi yang lebih besar bagi pembangunan komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia. Pernyataan itu disampaikan di hadapan peserta dari berbagai kawasan, termasuk negara-negara yang memiliki kepentingan dan pandangan berbeda dalam isu keamanan internasional.
Forum ini juga dihadiri Menteri Pertahanan Vietnam Phan Van Giang, Menteri Pertahanan Singapura Chan Chun Sing, Menteri Pertahanan Thailand Adul Boonthumjaroen, Menteri Pertahanan Kamboja Tea Seiha, dan Menteri Pertahanan Belarusia Victor Khrenin. Selain itu hadir Menteri Pertahanan Laos Khamlieng Outhakaisone, Menteri Pertahanan Pakistan Muhammad Ali, Wakil Menteri Pertahanan Rusia Anna Tsivileva, Wakil Menteri Pertahanan Malaysia Adly Zahari, Wakil Menteri Pertahanan Korea Utara Kim Kang Il, serta Deputi Direktur Jenderal Kementerian Pertahanan Jerman Stephan Willer.
Dua dekade Beijing Xiangshan Forum
Tahun 2026 menjadi penanda dua dekade berdirinya Beijing Xiangshan Forum. Sejak pertama kali digelar pada 2006, forum tersebut telah menyelenggarakan 12 edisi. Pertemuan tahun ini berlangsung menjelang kongres Partai Komunis pada 2027 yang akan mengukuhkan kepemimpinan baru Komisi Militer Pusat China.
Komisi Militer Pusat merupakan badan komando tertinggi PLA. Dari tujuh kursi yang tersedia, saat ini baru dua posisi yang telah terisi. Salah satunya ditempati Presiden Xi Jinping dalam perannya sebagai pemimpin tertinggi militer China.
Bagi Indonesia, partisipasi di forum seperti ini mencerminkan upaya menjaga kanal komunikasi dengan beragam pihak. Prinsip bebas aktif memungkinkan Indonesia terlibat dalam pembicaraan keamanan tanpa mengubah orientasi dasarnya: melindungi kepentingan nasional, menjaga hubungan baik dengan negara sahabat, dan mendorong stabilitas yang bermanfaat bagi kawasan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Menhan tegaskan relasi RI China di Beijing?Menhan tegaskan relasi RI China di Beijing is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Menhan tegaskan relasi RI China di Beijing matter?Menhan tegaskan relasi RI China di Beijing matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.