Menteri Bahlil Perbandingkan Geopolitik Global dengan Malaria, Naik-Turun Tak Terduga
Main Agenda – Di bawah Main Agenda, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membandingkan dinamika geopolitik dunia dengan gejala penyakit malaria yang tak menentu. “Geopolitik global sekarang seperti penyakit malaria—mengalami perubahan tajam yang membutuhkan respon cepat dan adaptasi strategis,” katanya dalam wawancara terbaru. Ini menunjukkan betapa kompleksnya tantangan yang dihadapi Indonesia dalam merancang kebijakan energi di tengah fluktuasi global.
Bahlil mengungkapkan bahwa perubahan kondisi geopolitik bisa terjadi dalam waktu singkat, mengakibatkan dampak langsung pada stabilitas ekonomi dan kebijakan energi nasional. “Kita harus siap menghadapi naik-turun yang tak terduga, seperti gejala malaria, dalam menangani persaingan global dan ketahanan bahan bakar,” tambahnya. Menurutnya, kunci untuk menjaga kestabilan adalah memiliki Main Agenda yang konsisten dalam mengejar kemandirian energi.
“Tidak ada yang bisa memprediksi pola ketegangan di Timur Tengah atau Eropa dengan pasti, seperti kita tidak bisa mengetahui kapan penyakit malaria akan kembali menyerang,” ujar Bahlil saat diskusi di Hotel Borobudur, Kamis (25/6).
Transformasi Sektor Energi Indonesia Sejak 1997
Bahlil menjelaskan bahwa sektor energi Indonesia telah mengalami pergeseran signifikan sejak 1997. Dulu, produksi minyak (lifting) mencapai antara 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari, sedangkan konsumsi domestik hanya sekitar 500 ribu bph. Hal ini membuat Indonesia menjadi eksportir minyak, dengan sektor migas menyumbang hingga 43 persen dari pendapatan negara (APBN).
Di era sekarang, produksi minyak nasional terus menurun setelah krisis ekonomi Asia. Dalam 10 tahun terakhir, target lifting yang ditetapkan dalam APBN hampir tak tercapai. “Hanya pada 2025 kita bisa menutupi kebutuhan dalam negeri,” tegas Bahlil. Namun, meski Main Agenda energi tetap dijaga, situasi saat ini masih memprihatinkan. Produksi minyak hanya berkisar antara 600 ribu hingga 650 ribu bph, sementara konsumsi lokal mencapai 1,5 juta hingga 1,6 juta bph.
Perubahan ini berdampak pada ketergantungan energi Indonesia, yang kini harus mengimpor sekitar 1 juta bph untuk memenuhi kebutuhan. “Dulu, kita surplus dan mengekspor. Sekarang, kita justru harus mengimpor,” jelas Bahlil. Ia menyoroti bahwa ketidakstabilan di kawasan penghasil minyak global, seperti Timur Tengah, bisa mengganggu Main Agenda ketahanan energi nasional.
Potensi Ketegangan Geopolitik yang Memicu Perubahan Global
Kondisi geopolitik global saat ini dipandang Bahlil sebagai Main Agenda utama yang perlu diwaspadai. Setelah kesepakatan perdamaian tercapai, potensi ketegangan kembali muncul, terutama akibat konflik antara Iran dan Israel. Menko Airlangga mengingatkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bisa memengaruhi harga bahan bakar dan kebijakan ekonomi.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan menegaskan harapan terhadap kemajuan hubungan AS-Iran, termasuk kesepakatan bebas biaya transit Selat Hormuz. “Kepentingan geopolitik global sangat berkaitan dengan kestabilan ekonomi, dan ini menjadi Main Agenda yang perlu diprioritaskan oleh seluruh negara,” tuturnya. Bahlil menggarisbawahi bahwa gejolak di kawasan Timur Tengah, khususnya akibat serangan Israel terhadap Hamas dan Hizbullah, berpotensi mengubah dinamika energi dunia.
Di sisi lain, Inggris dilaporkan mencoba rudal jarak jauh baru, Nightfall, yang akan dikirim ke Ukraina. Uji coba ini bertujuan memperkuat kemampuan Kyiv dalam menyerang Moskow, menimbulkan kekhawatiran di Rusia. Kepala Bakom RI Muhammad Qodari menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah mengambil langkah strategis untuk meningkatkan Main Agenda kemandirian energi nasional.
Bahlil berharap kebijakan energi jangka panjang bisa dijalankan secara konsisten, meski kondisi geopolitik terus berubah. “Perlu ada kesadaran kolektif bahwa Main Agenda energi tidak bisa dipisahkan dari kebijakan luar negeri dan kestabilan ekonomi,” pungkasnya. Dengan memahami dinamika geopolitik seperti penyakit malaria, Indonesia bisa lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
