New Policy: Balita Tewas dalam Kebakaran Rumah di Surabaya, Kakak Berhasil Selamat Usai Memecahkan Jendela
New Policy – Dalam kejadian kebakaran rumah di Surabaya yang menewaskan seorang balita perempuan berusia empat tahun, New Policy menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan dan respons darurat. Kebakaran terjadi di Jalan Petemon Timur Nomor 50, Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, pada Senin (22/6) sekitar pukul 14.22 WIB. Rumah dua lantai milik Resky Wahyu Susetyo (36) dan keluarganya mengalami api yang cepat merambat ke lantai atas, sehingga warga sekitar panik dan langsung memanggil petugas pemadam. Dalam kejadian tersebut, dua anak yang tinggal di dalam rumah menjadi korban, dengan balita Kyaranissa Kamila Susetyo (4) ditemukan meninggal setelah tidak bisa melarikan diri, sementara kakaknya, Aldery Ahmad Susetyo (11), berhasil selamat setelah memecahkan kaca jendela dan melompat keluar.
Kebakaran di Surabaya ini menunjukkan pentingnya New Policy dalam peningkatan keamanan rumah tangga. Saat ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Surabaya sedang memperketat peraturan penggunaan alat pemadam api dalam rumah warga. Sebagai langkah preventif, New Policy juga mendorong pelatihan warga tentang cara mengatasi kebakaran di lingkungan mereka. Kepala Dinas Pemadam Kebakaran Kota Surabaya, Laksita Rini, mengatakan laporan kebakaran diterima di siang hari dan unit pemadam langsung dikerahkan. Namun, akses jalan yang sempit dan jarak parkir ke titik api yang cukup jauh menyebabkan hambatan dalam upaya pemadaman.
“Penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan, namun kami memperkirakan ada faktor kesalahan penggunaan alat listrik atau kelelahan saat memasak,” terang Laksita. Ia menambahkan bahwa kebakaran yang menguasai seluruh lantai atas menyebabkan kesulitan dalam penyelamatan, terutama bagi balita yang terjebak di dalam rumah. Pemadaman dilakukan oleh delapan unit pemadam, dengan kesulitan mengakses titik api karena kondisi jalan yang sempit. Jarak antara pos pemadam dan lokasi kebakaran mencapai 50 meter, sehingga memperlambat upaya penanganan awal.
Respon Darurat dan Proses Pemadaman
Setelah menerima laporan, petugas pemadam di Surabaya mengambil langkah cepat untuk mengendalikan api. Proses pemadaman memakan waktu sekitar 1 jam 50 menit, hingga situasi dianggap stabil pada pukul 16.15 WIB. Laksita Rini menjelaskan bahwa meski api telah diatasi, proses penyelamatan tetap membutuhkan waktu lebih lama karena bangunan terbakar dalam kondisi yang memadat. Karena itu, New Policy menyarankan penggunaan sistem peringatan dini di rumah-rumah warga, terutama di area rawan kebakaran. Hal ini bertujuan untuk mengurangi risiko korban jiwa dalam situasi darurat.
Dalam kebakaran tersebut, dampak terbesar adalah kematian balita yang berusia empat tahun. Anak kecil cenderung rentan karena kemampuan gerak dan refleksnya yang belum sempurna. Laksita Rini menekankan bahwa kebakaran bisa terjadi di mana saja, dan kecepatan respons darurat sangat menentukan hasilnya. “Kami menyarankan warga untuk selalu siap dengan alat pemadam dan membuat jalur evakuasi yang jelas,” katanya. Selain itu, New Policy juga mendorong pembangunan rumah tangga yang memenuhi standar keselamatan, seperti instalasi listrik yang tahan api dan ventilasi yang memadai.
Kasus Kebakaran Serupa di Wilayah Lain
Kejadian kebakaran di Surabaya ini bukanlah yang pertama dalam beberapa waktu terakhir. Di wilayah Jakarta, ada beberapa kasus kebakaran rumah yang menewaskan korban. Di Sunter Agung, Jakarta Utara, empat orang tewas akibat api yang melahap habis bangunan. Diduga penyebab kebakaran berasal dari gangguan listrik yang terjadi pada dini hari. Sementara itu, di Jelambar, Jakarta Barat, dua rumah dilalap api, dengan tiga korban luka dan satu remaja meninggal. Pemadaman dilakukan oleh 17 unit pemadam yang datang dari berbagai pos, dengan kemungkinan penyebab awal adalah korsleting listrik.
Di Ciracas, Jakarta Timur, kebakaran terjadi saat anak bermain lilin, menyebabkan kepanikan dan kerugian besar. Sementara itu, di Tebet, Jakarta Selatan, kebakaran terjadi saat ibu dari empat balita sedang keluar rumah. Dua balita ditemukan meninggal, sementara dua lainnya mengalami luka bakar. Kasus-kasus kebakaran ini menggarisbawahi urgensi penerapan New Policy di berbagai kota besar. Pemerintah pusat dan daerah sepakat bahwa kebijakan keamanan rumah tangga harus lebih terpadu untuk mencegah insiden serupa. Melalui New Policy, pihak berwenang berharap bisa meningkatkan kesadaran masyarakat tentang tindakan pencegahan kebakaran.
Sebagai langkah lanjutan, New Policy juga mencakup evaluasi terhadap sistem pemadam kebakaran setiap wilayah. BPBD Surabaya dan Jakarta akan melakukan tinjauan menyeluruh terhadap fasilitas dan alur evakuasi yang ada. Kebakaran di Surabaya menunjukkan bahwa kesalahan dalam penyediaan jalur evakuasi bisa berdampak fatal. Dengan adanya New Policy, diharapkan perencanaan dan pengelolaan kebakaran akan lebih terstruktur, sehingga warga dapat beraksi lebih cepat dalam situasi darurat.
