Skip to content
Yellow Desk
Oktober 3, 2026
Internasional

Pengusaha Indonesia tawarkan kopi hingga rumput laut ke Mongolia

Linda Gonzalez - kabarsatunusa.com 4 mins read

Ulan Bator menjadi ruang pertemuan bagi pelaku usaha Indonesia dan Mongolia yang melihat peluang perdagangan lebih luas, mulai dari kopi olahan, bumbu kering

Pengusaha Indonesia tawarkan kopi hingga rumput laut ke Mongolia

Forum Bisnis Indonesia–Mongolia Buka Peluang Baru bagi Kopi, Rumput Laut, dan Pariwisata

Kabarsatunusa.com – Ulan Bator menjadi ruang pertemuan bagi pelaku usaha Indonesia dan Mongolia yang melihat peluang perdagangan lebih luas, mulai dari kopi olahan, bumbu kering, bir, ekstrak rumput laut, hingga layanan pengembangan proyek industri. Pertemuan tersebut berlangsung dalam forum bertajuk “70 Years of Partnership: A New Era of Cooperation”, yang mempertemukan sekitar 35 peserta dari kedua negara, baik secara langsung maupun daring.

Kegiatan ini sejalan dengan perjalanan hubungan diplomatik Indonesia dan Mongolia yang dimulai pada 21 Desember 1956. Kedua negara akan memperingati tujuh dekade hubungan diplomatik pada 2026, sehingga penguatan hubungan bisnis dipandang sebagai salah satu langkah penting untuk memperluas kerja sama pada era berikutnya.

Kopi Indonesia Menyasar Selera Generasi Muda Mongolia

Salah satu produk yang diperkenalkan dalam forum itu adalah kopi kemasan dari Indonesia. Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia di Tiongkok (INACHAM), Liky Sutikno, yang hadir mewakili Kapal Api, memaparkan beragam pilihan produk kopi yang dapat diperkenalkan kepada konsumen Mongolia.

“Bisnis termasuk yang bergerak di bidang produk kopi kemasan. Produknya meliputi kopi ‘3-in-1’, kopi bubuk serta kopi celup. Jadi, masyarakat di Mongolia bisa memilih mana yang mereka sukai,” kata Liky Sutikno.

Kehadiran Liky di Mongolia menjadi pengalaman pertamanya untuk meninjau langsung potensi pasar negara tersebut. Ia melihat perubahan kebiasaan konsumsi yang dapat membuka ruang bagi produk kopi Indonesia. Masyarakat Mongolia sebelumnya lebih akrab dengan teh dan susu kuda, tetapi minat terhadap kopi kini berkembang, terutama di kalangan anak muda.

“Namun kini, banyak anak muda di Mongolia yang gemar minum kopi, termasuk kopi hitam. Hal ini sangat sesuai dengan target pasar kami, mengingat mereka memang dikenal menyukai kopi hitam,” tambah Liky.

Perubahan preferensi tersebut memberi arti penting bagi eksportir kopi Indonesia. Produk kopi instan, kopi bubuk, dan kopi celup menawarkan bentuk konsumsi yang berbeda, sehingga konsumen dapat memilih sesuai kebiasaan dan kebutuhan mereka. Bagi produsen, variasi produk juga menjadi cara untuk memperkenalkan kopi Indonesia ke pasar yang masih terus dipetakan.

Kapal Api disebut memiliki posisi sebagai perusahaan kopi terbesar kelima di dunia. Kelompok usahanya bergerak di sejumlah bidang, dengan fondasi awal pada makanan dan minuman, khususnya pengolahan kopi. Partisipasi perusahaan ini memperlihatkan bahwa peluang kerja sama Indonesia–Mongolia tidak semata berfokus pada komoditas mentah, melainkan juga produk bernilai tambah yang siap dipasarkan kepada konsumen.

Produk Indonesia yang Ditawarkan Makin Beragam

Selain kopi, pelaku usaha Indonesia yang hadir membawa penawaran dari berbagai sektor. PT Rempah Galih memperkenalkan produk bumbu kering, PT Bali Hai Brewing membawa produk bir, sedangkan PT Bospress Global Resources menawarkan produk ekstrak rumput laut. Filtech Energy juga terlibat dengan layanan pengembangan proyek industri, terutama untuk sektor petrokimia.

Keragaman bidang tersebut menunjukkan bahwa hubungan dagang kedua negara memiliki ruang untuk dikembangkan melalui produk konsumsi, bahan baku olahan, jasa industri, serta dukungan bisnis lintas sektor. Indonesia membawa sejumlah produk yang berbeda karakter pasarnya, sementara Mongolia menghadirkan perusahaan dari bidang perjalanan, konsultasi, logistik, keuangan, farmasi, dan sektor lain.

Dari pihak Mongolia, forum dihadiri Presiden Mongolian National Chamber of Commerce and Industry (MNCCI), Baatarjav Lkhagvajav. Sejumlah perusahaan turut berpartisipasi, termasuk Chandmani Consulting dan Xanadu Travel Mongol LLC. Pertemuan antarperusahaan menjadi kesempatan untuk mengenali kebutuhan pasar, pola layanan, dan kemungkinan kemitraan yang dapat dijajaki setelah forum berakhir.

Pariwisata Menjadi Jembatan Antarmasyarakat

Hubungan Indonesia dan Mongolia juga tercermin dalam pergerakan wisatawan. Xanadu Travel Mongol LLC menyampaikan bahwa sejumlah warga Mongolia telah berkunjung ke Bali menggunakan layanan perusahaan tersebut. Perusahaan perjalanan ini mengandalkan tenaga lokal untuk menangani kebutuhan wisatawan, dari pemandu dan pengemudi hingga juru masak.

“Kami memiliki tenaga ahli lokal—mulai dari pemandu wisata, pengemudi, hingga juru masak yang sangat memahami seluk-beluk pekerjaan serta rute perjalanan. Itulah sebabnya mitra memilih kami; karena layanan kami aman dan profesional. Kami menerapkan standar tinggi, menawarkan layanan yang disesuaikan dengan kebutuhan serta menyusun rencana perjalanan secara cermat bagi setiap tamu,” kata Orkhonselenge Batsukh dari Xanadu Travel.

Data Kedutaan Besar Mongolia di Jakarta memperlihatkan kenaikan kunjungan warga Mongolia ke Indonesia, dari 782 orang pada 2024 menjadi 1.627 orang pada 2025. Pada periode yang sama, jumlah warga Indonesia yang berkunjung ke Mongolia bertambah dari 956 orang menjadi 1.235 orang.

Pertukaran manusia juga terlihat melalui izin tinggal dan pendidikan. Hingga 2025, terdapat 30 warga Mongolia yang memiliki izin tinggal di Indonesia. Sebaliknya, 461 warga Indonesia tercatat memiliki izin tinggal di Mongolia. Empat mahasiswa Mongolia sedang menempuh pendidikan di President University di Cikarang.

Mongolia juga masuk dalam cakupan program The Indonesian AID Scholarship serta Beasiswa Kemitraan Negara Berkembang atau KNB dari pemerintah Indonesia. Hubungan pendidikan, perjalanan, dan perdagangan tersebut dapat menjadi fondasi yang saling melengkapi: produk Indonesia memperoleh kesempatan dikenal di Mongolia, sementara hubungan antarmasyarakat semakin kuat melalui kunjungan dan studi.

Forum di Ulan Bator memberi gambaran bahwa kerja sama Indonesia–Mongolia dapat berkembang melalui pendekatan yang lebih beragam. Kopi dan rumput laut mungkin menjadi produk yang menonjol, tetapi peluang juga muncul dari rempah, pariwisata, logistik, industri, pendidikan, hingga layanan profesional. Dengan hubungan diplomatik yang memasuki usia 70 tahun pada 2026, koneksi antarpelaku usaha menjadi bagian penting dalam membuka babak kerja sama berikutnya.

Frequently Asked Questions

What is Pengusaha Indonesia tawarkan kopi hingga rumput?

Pengusaha Indonesia tawarkan kopi hingga rumput is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pengusaha Indonesia tawarkan kopi hingga rumput matter?

Pengusaha Indonesia tawarkan kopi hingga rumput matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *