Skip to content
Yellow Desk
Agustus 2, 2026
Uncategorized

Latest Program: Ditopang Ekspor Olahan Nikel Hingga Sawit, Neraca Perdagangan Non-Migas RI Surplus USD 16,31 M

Susan Anderson 3 mins read

Latest Program: Indonesia's Non-Migas Trade Surplus Surpasses USD 16.31 Billion, Nickel and Palm Oil Exports Drive Growth Latest Program - Menurut laporan

Latest Program: Ditopang Ekspor Olahan Nikel Hingga Sawit, Neraca Perdagangan Non-Migas RI Surplus USD 16,31 M

Latest Program: Indonesia’s Non-Migas Trade Surplus Surpasses USD 16.31 Billion, Nickel and Palm Oil Exports Drive Growth

Latest Program – Menurut laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan non-migas Indonesia mencatatkan surplus USD 16,31 miliar pada Januari hingga Mei 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh kenaikan signifikan dalam ekspor produk olahan nikel dan minyak kelapa sawit, yang menjadi komoditas utama yang mendorong kinerja positif sektor ekspor non-migas. Total nilai ekspor mencapai USD 110,19 miliar, sedangkan impor tercatat sebesar USD 93,88 miliar, menunjukkan dominasi komoditas non-migas dalam perekonomian negara.

Key Drivers of Non-Migas Export Growth

Ekspor non-migas RI menunjukkan momentum kuat berkat peningkatan output dari sektor industri pengolahan, yang berkontribusi USD 94,62 miliar atau 8,58 persen lebih tinggi dibandingkan Januari-Mei 2025. Komoditas seperti produk olahan nikel, minyak sawit, dan bahan kimia dasar organik serta anorganik menjadi pendorong utama. “Program ekspor ini memperlihatkan keberhasilan industri dalam mengubah bahan baku menjadi barang bernilai tambah,” terang Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, dalam wawancara Rabu (1/7).

“Ekspor industri pengolahan tumbuh sangat pesat, terutama dari pertanian dan bahan-bahan seperti semi aluminium, yang menunjukkan adaptasi yang baik terhadap kebijakan ekspor terkini,” papar Amalia. Ini menunjukkan bahwa Latest Program telah memberikan dampak positif yang jelas pada pertumbuhan ekonomi sektor non-migas.

Major Export Markets and Regional Contributions

China terus menjadi tujuan utama ekspor non-migas dengan nilai USD 28,54 miliar, tumbuh 17,68 persen tahunan. Amerika Serikat dan India juga menunjukkan peningkatan, masing-masing menyerap USD 12,73 miliar dan USD 7,43 miliar. Negara-negara lain seperti Uni Eropa dan ASEAN turut berkontribusi dengan nilai USD 7,99 miliar dan USD 22,13 miliar, masing-masing. Dalam konteks regional, Sulawesi Selatan (Sulsel) mencatat surplus USD 918 juta hingga Mei 2026, didorong oleh ekspor nikel yang menjadi andalan daerah tersebut.

Ekspor produk olahan nikel meningkat 61,06 persen menjadi USD 5,41 miliar, sementara minyak sawit tumbuh 8,58 persen ke USD 11,50 miliar. Kimia dasar organik dari sektor pertanian mencapai USD 4,99 miliar, naik 21,39 persen, dan komoditas kimia anorganik meningkat 84,34 persen menjadi USD 1,38 miliar. Kenaikan ini menegaskan bahwa Latest Program membantu sektor industri pengolahan menjadi lebih kompetitif secara global.

Dalam rangka meningkatkan daya saing ekspor, pemerintah telah menerapkan berbagai inisiatif seperti pengurangan tarif masuk dan pengembangan infrastruktur logistik. Hal ini berdampak pada peningkatan volume ekspor non-migas yang sejalan dengan target pertumbuhan ekonomi nasional. “Kebijakan terkini ini telah memberikan dampak langsung pada ekspor, terutama dalam Latest Program,” tambah Amalia, menyoroti kebijakan yang diterapkan untuk memperkuat sektor ekspor non-migas.

Di sisi impor, mesin mekanis, mesin elektrik, dan plastik serta barang plastik menjadi komoditas utama yang memasuki Indonesia, dengan total nilai mencapai USD 93,88 miliar. Mesin mekanis menyumbang 16,16 miliar, sementara mesin elektrik dan plastik masing-masing menempati USD 13,95 miliar dan USD 4,92 miliar. Kedua komoditas ini dominan dalam masuknya barang ke Indonesia, menunjukkan bahwa kebijakan Latest Program juga perlu menyesuaikan strategi impor untuk menjaga keseimbangan neraca perdagangan.

Dengan surplus USD 16,31 miliar pada lima bulan pertama 2026, Indonesia menunjukkan kinerja yang kuat dalam perdagangan luar negeri. Pertumbuhan ekspor non-migas ini merupakan indikator penting dalam mendukung stabilitas ekonomi nasional, sekaligus menegaskan bahwa Latest Program masih menjadi pendorong utama bagi sektor ekspor. “Pertumbuhan ini menunjukkan kesiapan industri dalam memenuhi permintaan pasar internasional, terutama dalam rangka Latest Program,” jelas Amalia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *