Mojtaba Khamenei Jadi Target Pembunuhan Israel
New Policy – Sebuah New Policy baru diperkenalkan oleh Israel dalam upaya memperkuat kebijakan pertahanannya terhadap Iran, dengan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menyatakan bahwa militer negara itu telah menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai sasaran utama dalam operasi militer jika kondisi memaksa. Dalam wawancara dengan Ynet News pada Selasa (30/6/2026), Katz mengungkapkan bahwa New Policy ini menandai perubahan strategi Israel dalam menghadapi ancaman dari Iran, terutama setelah serangan terhadap komandan militer dan ilmuwan nuklir Iran yang mengorbankan banyak nyawa. Kebijakan ini diharapkan akan memicu respons tegas dari Iran, sementara juga memperkuat kemitraan Israel dengan sekutunya di kawasan.
“Kami menargetkan Mojtaba Khamenei untuk dibunuh,” kata Katz. “Jika kita melihat ancaman yang nyata, kita akan memberi peringatan kepada masyarakat dan meluncurkan serangan,” ujarnya. Pernyataan ini mencerminkan komitmen Israel dalam menerapkan New Policy yang lebih agresif, terutama setelah konflik memasuki tahap yang semakin berdarah. Menurut Katz, militer Israel sudah bersiap menghadapi kemungkinan serangan rudal dari Iran, dengan Institut Pertahanan Israel (IDF) mampu menangkis dan menyerang secara efektif.
Sebagai bagian dari New Policy, Israel juga mengambil langkah-langkah preventif untuk meminimalkan risiko terhadap warga sipil Iran. Dalam pernyataannya, Katz menekankan bahwa Iran memiliki cadangan senjata rudal yang melimpah, tetapi Israel percaya bahwa kemampuan pertahanannya sudah cukup kuat untuk menghadapi ancaman tersebut. Serangan terhadap Mojtaba Khamenei dianggap sebagai langkah strategis dalam New Policy yang bertujuan mengurangi pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah.
Operasi Militer IRGC Pasca-Kematian Khamenei
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan dimulainya operasi militer terbesar dalam sejarah setelah Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, terkena serangan yang menyebabkan kejadian tragis. Sebelumnya, televisi Iran melaporkan bahwa Khamenei tewas dalam serangan tersebut, meskipun belum ada konfirmasi resmi. New Policy Israel dianggap sebagai penyebab utama munculnya operasi balasan oleh Iran, yang mencakup serangan terhadap fasilitas militer dan lokasi nuklir.
Operasi ini juga menunjukkan respons Iran terhadap kebijakan New Policy Israel yang menargetkan Mojtaba Khamenei. Menurut laporan, IRGC mengirimkan pasukan untuk menghancurkan kemampuan militer Israel, sementara juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap para pemimpin tertinggi. Meskipun Israel berjanji akan membalas serangan tersebut, Iran tetap menunjukkan semangat perlawanan yang kuat dalam menghadapi New Policy yang diterapkan oleh negara penduduk.
Implikasi Politik dan Ekonomi
Dalam New Policy terbarunya, Israel menginginkan untuk mengurangi kekuatan Iran di tingkat internasional, terutama dalam hal pengembangan senjata nuklir. Senator Pakistan memberi peringatan bahwa serangan terhadap Mojtaba Khamenei dapat memicu respons dari seluruh negara Muslim, yang memperbesar risiko konflik regional. Selain itu, Selat Hormuz menjadi titik krusial dalam perundingan antara AS dan Iran, dengan Oman menunjukkan sinyal untuk menerapkan tarif selat bagi kapal yang melintas, menandakan berakhirnya status quo setelah konflik.
Kebijakan New Policy juga berdampak pada dinamika politik kawasan. Para ahli menyatakan bahwa pengambilan tindakan tegas terhadap Mojtaba Khamenei akan memperkuat posisi AS dan sekutunya dalam memperketat hubungan dengan Israel. Di sisi lain, Iran berharap untuk menegaskan kekuatannya melalui operasi militer yang diperkenalkan dalam rangkaian New Policy mereka. Serangan ini dianggap sebagai tanda kepercayaan Iran terhadap kemampuan militer IRGC dalam menghadapi ancaman dari luar.
Strategi Nasional dan Tanggapan Internasional
Pengambilan New Policy oleh Israel tidak hanya berdampak pada Iran, tetapi juga pada negara-negara lain di kawasan. Beberapa pihak mengingatkan bahwa tindakan Israel ini bisa memicu reaksi global, terutama dari negara-negara yang tergabung dalam Liga Arab atau Organisasi Islam Konservatif. Menurut para analis, New Policy ini mencerminkan upaya Israel untuk mempercepat proses mengurangi ancaman nuklir dari Iran, yang selama ini menjadi prioritas utama dalam kebijakannya.
Dalam konteks internasional, New Policy juga memperlihatkan bagaimana Israel mengadaptasi strateginya untuk menangani konflik dengan Iran. Meski Iran menunjukkan kemampuan militer yang tangguh, Israel percaya bahwa pengambilan langkah-langkah tegas dalam New Policy akan memberikan dampak signifikan pada kestabilan kawasan. Dengan menargetkan Mojtaba Khamenei, Israel berharap untuk mempercepat kesepakatan yang berpotensi mengurangi ketegangan, sekaligus memastikan dominasi militer mereka di seluruh wilayah Timur Tengah.
