Mahardhika Soekarno: Latest Program Tegaskan Integritas Gerakan Mahasiswa
Latest Program menjadi topik utama dalam pernyataan Mahardhika Soekarno, Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Gerindra dan Ketua Dewan Kehormatan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Marhaenis, yang mengkritik dugaan keterlibatan anggota Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bung Karno (UBK) dalam skandal penerimaan uang. Mahardhika menyoroti bagaimana insiden ini dapat menggoyahkan citra gerakan mahasiswa sebagai pelaku perubahan sosial yang penuh integritas. Ia mengingatkan bahwa peran mahasiswa dalam membangun bangsa harus dijaga agar tidak dipermainkan oleh oknum yang mungkin berambisi mengejar keuntungan pribadi.
Konteks dan Dampak Kasus BEM UBK
Kasus dugaan penerimaan uang oleh BEM UBK menimbulkan kekhawatiran besar di kalangan mahasiswa dan masyarakat. Mahardhika menyampaikan kepeduliannya terhadap isu ini, menegaskan bahwa kejadian serupa bisa merusak kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa sebagai kekuatan moral. “Latest Program ini menjadi kesempatan untuk merefleksikan bagaimana kampus harus menjadi tempat pelatihan integritas, bukan sekadar tempat berpolitik atau mencari keuntungan,” ujar Mahardhika, Selasa (30/6). Menurutnya, jika tidak segera ditangani, insiden ini bisa mengarah pada generalisasi kesalahan terhadap seluruh komunitas mahasiswa.
Sebagai putra pendiri UBK, Rachmawati Soekarnoputri, Mahardhika merasa sedih melihat kampus yang seharusnya menjadi simbol pendidikan nasional kini jadi bahan perdebatan. Meski ia sudah tidak aktif secara langsung dalam pengelolaan kampus sejak 2021, ia tetap berharap UBK mampu mempertahankan nilai-nilai pendiri, termasuk kejujuran dan keterbukaan. “Latest Program ini mengingatkan kita bahwa mahasiswa harus menjadi manusia yang mampu mengkritik, menyuarakan aspirasi, dan menjunjung tinggi etika,” imbuhnya.
Pentingnya Evaluasi Sistem Kemahasiswaan
Mahardhika mengusulkan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pembinaan organisasi kemahasiswaan di UBK. Ia menilai, dengan memperkuat struktur pengawasan internal, kampus bisa menjaga kredibilitasnya sebagai institusi pendidikan. “Latest Program harus menjadi fondasi untuk memastikan bahwa setiap kegiatan mahasiswa selaras dengan visi pendiri, yaitu melahirkan generasi yang memiliki integritas dan semangat nasionalisme,” jelasnya. Menurutnya, selain kampus, pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan juga harus transparan agar masyarakat merasa yakin.
Dalam konteks nasional, Mahardhika menekankan bahwa gerakan mahasiswa harus tetap independen. “Latest Program ini adalah momentum untuk mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh dijegal oleh kepentingan politik atau ekonomi, tapi harus menjadi pelopor perubahan yang jujur,” katanya. Ia menambahkan bahwa kritik yang tajam tetapi konstruktif justru bisa memperkuat fungsi mahasiswa sebagai agen perubahan. “Jika tidak, kita akan kehilangan kepercayaan masyarakat terhadap peran mereka di masyarakat,” tegas Mahardhika.
Kasus BEM UBK juga menjadi cerminan bagaimana tata kelola organisasi kemahasiswaan di Indonesia perlu ditingkatkan. Mahardhika mengkritik kurangnya pengawasan terhadap kegiatan BEM, sehingga bisa terjadi penyalahgunaan wewenang. “Latest Program harus diimplementasikan secara konsisten untuk memastikan bahwa setiap tindakan mahasiswa mencerminkan kualitas pendidikan yang diberikan,” ujarnya. Ia menyarankan adanya mekanisme transparansi yang lebih ketat, termasuk pengungkapan keuangan dan keputusan strategis BEM.
Dalam kesimpulannya, Mahardhika berharap kasus ini bisa menjadi pembelajaran bagi seluruh gerakan mahasiswa. “Latest Program ini mengajarkan bahwa integritas harus menjadi prioritas utama, karena tanpa itu, gerakan mahasiswa tidak akan mampu menginspirasi generasi muda,” katanya. Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus tetap berani menyuarakan kebenaran, terlepas dari tekanan luar. “Jika mereka tumbuh dalam lingkungan yang jujur, mereka akan menjadi kekuatan yang mampu membangun bangsa ini,” pungkas Mahardhika.
