Konservasi Orangutan Tabalong: Menjaga Rumah Terakhir di Hutan Gambut Kalimantan Selatan
Topics Covered – Hutan gambut Tabalong di Kalimantan Selatan menjadi tempat tinggal terakhir bagi populasi orangutan yang semakin langka. Wilayah ini, dengan luas 3.000 hektare, dianggap sebagai habitat kritis yang harus dipertahankan agar spesies besar ini tidak punah. Konservasi di sini bukan hanya tentang melindungi satwa, tetapi juga memastikan keberlanjutan ekosistem yang menjadi rumah bagi banyak kehidupan liar.
Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Kalimantan Selatan, Heri Sofian, mengatakan bahwa konservasi orangutan di Tabalong membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Masyarakat sekitar, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan secara aktif berpartisipasi untuk menjaga kawasan hutan gambut. Upaya ini mencakup pemantauan rutin, pengusulan kebijakan, dan penyelenggaraan program edukasi bagi warga.
Data monitoring terbaru menunjukkan bahwa populasi orangutan di Tabalong tetap stabil, meski terancam oleh aktivitas manusia. Di Desa Habau, Kecamatan Banua Lawas, ditemukan 84,88 sarang per kilometer persegi, yang menjadi indikator keberlanjutan populasi. Sementara di Kabupaten Hulu Sungai Utara, angka mencapai 121,36 sarang per kilometer persegi. Angka ini membuktikan bahwa hutan gambut masih menjadi sumber kehidupan yang penting bagi orangutan.
Usulan Areal Preservasi untuk Konservasi Ekosistem
Konservasi orangutan di Tabalong juga diiringi dengan usulan pembentukan Areal Preservasi untuk memperkuat perlindungan habitat. Usulan ini sedang disiapkan oleh BKSDA Kalimantan Selatan, dengan partisipasi aktif dari pemerintah daerah dan komunitas lokal. Kawasan yang diusulkan termasuk dalam kategori Areal Penggunaan Lain (APL), tetapi memiliki potensi tinggi untuk menjadi kawasan konservasi yang lebih luas.
“Proses pengusulan Areal Preservasi berjalan matang, dengan partisipasi dari berbagai pihak. Kami terus memperbarui data sebagai dasar kebijakan,” kata Heri Sofian.
Proses ini membutuhkan pengumpulan data yang lebih rinci, termasuk pemantauan lingkungan dan evaluasi dampak aktivitas pemanfaatan lahan. Dengan adanya Areal Preservasi, diharapkan pergerakan orangutan tetap terjaga, serta tumbuhan dan satwa lainnya tidak terganggu.
Salah satu strategi konservasi yang digunakan adalah penggunaan teknologi pesawat nirawak untuk memantau keberadaan orangutan di wilayah perbatasan antara Tabalong, Hulu Sungai Utara, dan Barito Timur. Teknologi ini memudahkan pengamatan di tengah tantangan hutan yang rindang dan sulit diakses. Dengan data yang lebih akurat, upaya konservasi bisa lebih efektif dalam melindungi keanekaragaman hayati.
Kemitraan Masyarakat dalam Upaya Pelestarian
Kehadiran orangutan di Tabalong juga mencerminkan kemitraan yang kuat antara masyarakat dan pemerintah. Warga Desa Habau telah lama hidup berdampingan dengan satwa liar ini tanpa terjadi konflik serius. Mereka memahami nilai ekologis hutan gambut dan secara aktif mendukung program konservasi.
Salah satu contoh kerja sama adalah pelaksanaan sosialisasi oleh BKSDA Kalimantan Selatan dan Dinas Kehutanan. Program ini bertujuan memperkuat kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. Dengan keberlanjutan konservasi, masyarakat juga bisa memperoleh manfaat dari ekosistem yang mereka bantu menjaga, seperti akses ke sumber daya alam yang terkelola.
Forum Konservasi Orangutan (Forest) Kabupaten Tabalong menjadi wadah penting untuk menyatukan komitmen semua pihak. Forum ini mendorong pengembangan kebijakan yang berkelanjutan, sekaligus menangani isu-isu terkait eksploitasi hutan. Dengan partisipasi aktif, harapan ada untuk menjaga ekosistem hutan gambut dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.
